Produk Lokal Sulit Bersaing, Pemerintah Diminta Setop Impor Tekstil

Penulis: Rizky Alika

Editor: Ratna Iskana

9/9/2019, 14.23 WIB

Pemerintah dianggap memberikan aturan yang terlalu longgar untuk impor produk tekstil.

tekstil
ANTARA FOTO/Maulana Surya
Ilustrasi, pabrik tekstil. Produk tekstil lokal sulit bersaing karena banjir produk tekstil impor.

Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (Ikatsi) meminta pemerintah menyetop impor tekstil dan produk tekstil (TPT) selama enam bulan. Hal ini untuk menyelamatkan industri TPT nasional.

Pemberhentian impor sementara diharapkan berlaku untuk industri TPT. Kecuali untuk kepentingan ekspor melalui Kawasan Berikat (KB) dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE).

"Ikatsi meminta pemerintah untuk segera menghentikan impor sementara hingga ada perbaikan aturan impor," kata Ketua Umum Ikatsi Suharno Rusdi di Menara Kadin Jakarta, Senin (9/9).

Ikatsi meminta perbaikan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) 64 tahun 2017 yang dianggap sebagai salah satu akar masalah banjir impor tekstil. Permintaan tersebut telah disampaikan dalam surat kepada presiden dan beberapa kementerian terkait.

(Baca: RI Mampu Jadi Pemain Fesyen Besar Dunia karena Produksi Bahan Ini)

Poin yang diminta untuk diperbaiki ialah pemulihan dan penguasaan pasar domestik guna mendorong substitusi impor melalui penerapan trade remedies. Dalam jangka panjang selama lima tahun, diharapkan ada peningkatan daya saing untuk mendorong ekspor, yaitu dengan menjalankan agenda peningkatan daya saing di sektor bahan baku, energi, sumber daya manusia, teknologi, keuangan dan lingkungan.

Pembenahan sektor TPT dinilai menjadi langkah strategis untuk mengembalikan neraca perdagangan menjadi positif dan mencegah dampak buruk ekonomi makro lainnya. Sebab, bila sektor TPT memburuk, maka akan berdampak ke berbagai sektor.

“Sektor perbankan akan terdampak, setoran BPJS dan pembayaran listrik juga terdampak, makanya harus segera diperbaiki sebelum terlambat” kata Rusdi.

(Baca: Industri Tekstil Terbebani Naiknya Iuran BPJS Kesehatan )

Rusdi menambahkan, pertumbuhan industri TPT pada kuartal II sebesar 20,71% tidak bisa dijadikan patokan gambaran industri TPT. Menurutnya, pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan nilai ekspor garmen.

Sedangkan kondisi yang terjadi di sektor produksi serat, benang dan kain justru memperlihatkan kondisi sebaliknya. "Jadi pernyataan beberapa pihak bahwa industri TPT nasional dalam kondisi yang baik-baik saja 100% tidak valid," kata Rusdi.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, produk impor kain dan garmen telah merebut pasar industri lokal. "Ada pertumbuhan konsumsi masyarakat, namun kebutuhan konsumsi tersebut diambil oleh produk impor," ujar dia.

Industri tekstil lokal pun tidak menikmati pertumbuhan konsumsi masyarakat. Padahal berdasarkan catatan Ikatsi, jumlah kenaikan konsumsi masyarakat pada 2018 sekitar 100 ribu ton.

(Baca: Ancaman Produk Tiongkok ke Industri Tekstil Dalam Negeri)

Selain kebijakan Permendag 24/2017, menurutnya ada sejumlah kebijakan yang pro impor. Salah satunya kesulitan ekspor dan penjualan domestik bagi pengusaha di Pusat Logistik Berikat (PLB). Di sisi lain, industri di luar Kawasan Berikat tertekan.

Selain itu, ada pembiaran praktik under invoice dan under volume. "Harga impor dari Tiongkok jauh dari harga impor negara lainnya," ujarnya.

Ia pun mendorong pemerintah untuk melakukan sejumlah perbaikan aturan, salah satunya barang PLB diperbolehkan masuk ke pasar lokal. Selain itu, API-P bodong harus diverifikasi dan harus membayar rekening listrik.

Redma juga mengusulkan, verifikasi dilakukan pada importir untuk API-P. Verifikasi dilakukan pada pelabuhan asal untuk API-U.

(Baca: Industri Tekstil Kurang Manfaatkan Peluang Perang Dagang AS-Tiongkok)

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN