Larangan Ekspor Nikel, Korsel Ingin Bangun Pabrik Baterai di Indonesia

Penulis: Happy Fajrian

23/9/2019, 06.55 WIB

Perusahaan asal Korea Selatan, LG Chemicals, ingin membangun pabrik baterai lithium di Indonesia bekerjasama dengan Tiongkok atau Jerman.

Deputi GM Unit Bisnis Pertambangan Nikel (UBPN) Sultra PT Aneka Tambang (ANTAM) Nilus Rahmat (kiri) didampingi VP CSR Kamsi (kanan) memeriksa biji feronikel siap ekspor di Pelabuhan Pomala, Kolaka, Sultra, Selasa (8/5). Realisasi penjualan feronikel tahun
ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
Ilustrasi nikel dari PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Larangan ekspor nikel yang akan mulai berlaku pada 2020 membuat perusahaan asal Korea Selatan, LG Chemicals, berniat membangun pabrik baterai lithiumnya di Indonesia. LG Chem kemungkinan akan bermitra dengan Tiongkok atau dengan produsen mobil asal Jerman, Volkswagen.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan bahwa perusahaan asal Korea Selatan (Korsel), LG Chemicals, ingin membangun pabrik baterainya di Indonesia. Hal itu karena Indonesia akan memberlakukan larangan ekspor nikel mulai Januari 2020, serta harga nikel di pasar global yang terus naik.

Menurut Luhut, rencana tersebut merupakan dampak positif dari kebijakan larangan ekspor nikel dan akan mendukung rencana pemerintah dalam mengembangkan kendaraan listrik. Bahan baku baterai mobil listrik adalah nikel dengan kadar di bawah 1,4% yang saat ini masih diekspor.

"LG Chemical mengatakan sedang mempertimbangkan pengembangan fasilitas produksi baterai lithiumnya di Indonesia setelah mendengar rencana Indonesia untuk menerapkan pelarangan ekspor biji nikel efektif Januari 2020," kata Luhut di Beijing, Minggu (23/9), usai menghadiri ASEAN-China Expo di Nanning, Tiongkok.

Luhut mengungkapkan, LG Chemical kemungkinan akan membangun pabrik tersebut bermitra dengan Tiongkok atau Volkswagen, perusahaan pembuat mobil asal Jerman yang sekarang sedang mengembangkan produk mobil listriknya.

(Baca: Rugi Puluhan Triliun, Pengusaha Protes Larangan Ekspor Nikel)

"Mobil listrik juga menggunakan aluminium dan 'carbon steel' seperti untuk bagian sasis, mesin dan lainnya. Dengan demikian, kita berharap penerimaan pajak akan meningkat dan membuka lebih banyak lapangan kerja," ungkapnya.

Di sela-sela kunjungannya ke ASEAN-China Expo tersebut, Luhut sempat bertemu dengan Wakil Ketua Komisi Pembangunan Nasional dan Reformasi Tiongkok (National Development and Reform Commission/NDRC) Ning Jizhe.

Dalam kesempatan itu Ning menyampaikan dampak pelarangan ekspor nikel juga dirasakan oleh Tiongkok yang 50-75% pasokan nikelnya bergantung pada ekspor dari Indonesia.

Dalam pertemuan itu Luhut juga meminta Ning untuk menyampaikan keberatan Indonesia kepada Tiongkok atas penerapan kenaikan bea masuk antidumping terhadap produk baja stainless asal Indonesia.

Di lain pihak, Ning juga meminta Luhut untuk membantu percepatan pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung yang progresnya baru mencapai 28%. Menanggapi permintaan tersebut, Luhut mengatakan akan menyampaikan hal itu kepada pemerintah Indonesia.

(Baca: Dilarang Ekspor, Pelaku Usaha Minta Pemerintah Perbaiki Niaga Nikel)

Reporter: Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan