Buntut Dualisme Kepemimpinan, Dua Direktur Sriwijaya Air Mundur

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Yuliawati

30/9/2019, 21.06 WIB

Sriwijaya Air dipimpin dua orang dengan pandangan yang berbeda, sejak pemegang saham mencopot Direktur Utama.

Sriwijaya Air, dualisme kepemimpinan
ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL
Ilustrasi pesawat.

Dua direktur Sriwijaya Air mengundurkan diri secara resmi pada Senin (30/9) karena persoalan dualisme kepemimpinan dalam perusahaan maskapai berbiaya murah (Low Cost Carrier/ LCC) tersebut. Mereka adalah Direktur Operasi Capt Fadjar Semiarto dan Direktur Teknik Romdani Ardali Adang.

Fadjar menjelaskan manajemen Sriwijaya Air dipimpin dua orang dengan pandangan yang berbeda, sejak pemegang saham mencopot Joseph Adrian Saul dari jabatan sebagai Direktur Utama pada awal September lalu. Pemegang saham mengangkat Jefferson I Jauwena sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama.

(Baca: Tak Laik Terbang, Ini Kronologis Pecah Kongsi Sriwijaya dengan Garuda)

Namun, dalam surat perizinan di Kementerian Perhubungan Joseph Adrian Saul masih tercatat sebagai penanggung jawab Sriwijaya Air. Sehingga tanggung jawab maskapai masih dipegang oleh Joseph. "Jadi direktur utama secara akta ada, tapi ada Plt direktur utama yang mengambil keputusan. Padahal kalau Plt ambil keputusan tidak sah," kata Fadjar saat ditemui di Jakarta, Senin (30/9).

Kedua, dalam kondisi keuangan perseoan yang tertekan membuat pengelolaan risiko atau HIRA (Hazard, Identification, Risk, Assesment) tinggi atau berada di level merah. Kondisi ini dapat mengancam keselamatan penerbangan. Sehingga, pemberhentian sementara operasional menjadi keputusan yang tepat saat ini.

(Baca: Citilink Gugat Sriwijaya Air karena Diduga Langgar Perjanjian)

Director of Quality, Safety and Security Sriwijaya Air Capt Toto Soebandoro juga telah menerbitkan surat kepada internal perusahaan untuk memberhentikan operasi atau mengurangi biaya operasional sesuai dengan kemampuan perusahaan beberapa hari ke depan.

Hal ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan mekanik untuk meneruskan dan mempertahankan kelaikudaraan dengan baik, belum adanya laporan keuangan sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan, dan adanya catatan ramp check yang dilakukan oleh insepktur Directorate General Of Civil Aviation (DGCA).

"Terbukti tidak adanya uang masuk untuk operasional, langkah yang diakukan itu harusnya ke arah perbaikan kondisi finansial tapi malah tidak," katanya.

Saat ini frekuensi terbang maskapai Srwijaya Air hanya tinggal 50% dari 245 rute yang dimiliki sebelumnya, dengan jumlah 30 pesawat yang beroperasi.

(Baca: Sriwijaya Air Rombak Jajaran Direksi, Citilink Tuntut Penjelasan)

 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan