Ekonomi Digital Membesar, Ini Strategi Kominfo Dorong Layanan Logistik

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Martha Ruth Thertina

28/10/2019, 14.19 WIB

Kominfo mendorong penyedia layanan logistik untuk menerapkan teknologi terbaik guna mempercepat, menjamin akurasi, dan memudahkan pelacakan barang kiriman.

e-commerce, perusahaan logistik, Kominfo e-commerce, Johnny Plate
Lion Parcel
CEO Lion Parcel Farian Kirana (kanan) dan Komisaris Utama PT Indo Berjaya Logistik, Machreza Pietra Paloh (kiri) di TPS Lion Parcel Batam.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyatakan layanan logistik sebagai salah satu pilar penting dalam pengembangan industri e-commerce. Kementerian pimpinan Johnny Plate itu pun memiliki dua strategi untuk meningkatkan layanan logistik di Tanah Air.

Direktur Pos pada Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kominfo Ikhsan Baidirus menjelaskan, strategi pertama yakni mengedukasi semua penyedia jasa kurir dan logistik serta jasa pengantaran lainnya untuk menerapkan sistem teknologi terbaik guna meningkatkan layanan.

"Kami harap (teknologi) ini bisa mempercepat, menjamin akurasi pengiriman barang, serta memperkuat sistem tracking (pelacakan) barang," ujar Ikhsan saat ditemui di sela-sela acara Seminar Nasional: Designing of Digital Postal Business di Jakarta, Senin (28/10).

(Baca: Menakar Peluang Konsolidasi di Antara GoPay, DANA, OVO, dan LinkAja)

Strategi selanjutnya yaitu merilis regulasi-regulasi yang mendukung pengembangan sektor logistik. Namun, ia enggan memerinci regulasi apa yang perlu didorong ke depan. "Regulasi yang memudahkan, memberikan arah yang lebih tepat, serta lebih baik dari regulasi-regulasi sebelumnya," ujarnya.

Adapun pengembangan layanan logistik dinilainya penting seiring semakin besarnya ekonomi digital di Tanah Air. Berdasarkan laporan Google, Temasek, dan Bain bertajuk e-Conomy SEA 2019, nilai ekonomi berbasis internet di Asia Tenggara diperkirakan mencapai US$ 100 miliar atau 1.418,7 triliun tahun ini. Dari jumlah tersebut, sebesar 40% atau senilai US$ 40 miliar (sekitar Rp 567,9 triliun) berasal dari Indonesia.

Proyeksi atas nilai ekonomi tersebut menghitung transaksi (gross merchandise value/GMV) dari lima sektor, yakni e-commerce, layanan berbagi tumpangan (ride-hailing), online media, online travel agent, dan layanan finansial. Laporan tersebut menyebut bahwa e-commerce masih menjadi sektor potensial dari ekonomi digital di Asia Tenggara.

(Baca: Johnny Plate Jadi Menkominfo, Ingin Cetak Lebih Banyak Unicorn)

Pasar e-commerce diproyeksikan meningkat empat kali lipat dari US$ 38,2 miliar tahun ini menjadi US$ 153 miliar pada 2025. Mayoritas pasar berasal dari Indonesia, yang nilainya diperkirakan naik dari US$ 21 miliar menjadi US$ 82 miliar.

Selain sektor logistik, Ikhsan mengatakan dua pilar utama lainnya dalam pengembangan e-commerce yakni keberadaan platform bisnis yang memungkinkan e-commerce berjalan, dan sistem pembayaran. "Itu semua harus dibuat sedemikian rupa, tidak konservatif, saling mendukung, dan memperkuat antarsektor," ujarnya.

Menurut dia, ketika sistem logistik maju maka produsen di tingkat usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) maupun pengusaha besar juga ikut menikmati jaringan infrastruktur logistik dan layanan kurir tersebut.

"Istilah pos delivery service dan logistik ini guna mendukung ekonomi digital. Kami yakin pada akhirnya semua sektor ikut menikmati (pertumbuhan) itu," ujarnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan