ConocoPhillips Rampungkan Suban Compression, Produksi Corridor Terjaga

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ratna Iskana

6/11/2019, 11.42 WIB

ConocoPhillips menyebut proyek Suban Compression menambah sedikit produksi Blok Corridor. Sehingga rata-rata produksi blok tersebut tidak menurun.

ConocoPhillips, Blok Corridor
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi, logo ConocoPhillips. ConocoPhillips akhirnya merampungkan proyek Suban Compression sehingga laju penurunan Blok Corridor dapat ditahan.

ConocoPhillips (Grissik) Ltd akhirnya mampu merampungkan proyek Suban Compression pada awal November 2019. Dengan proyek migas tersebut, rata-rata produksi Blok Corridor bisa terjaga.

Vice President Commercial and Business Development ConocoPhillips Taufik Ahmad mengatakan proyek Suban Compression baru memasuki tahap commisioning. Adapun, peresmian proyek menunggu hasil uji coba stabil terlebih dahulu.

"Jadi itu untuk menjaga produksi di Suban. Ada tambahan sedikit agar produksi tidak turun," kata Taufik saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Selasa (6/11) malam.

Proyek dengan estimasi investasi US$ 440 juta ini diproyeksi  mampu menambah produksi Blok Corridor hingga 100 juta standar kaki kubik per hari mmscfd. Hingga akhir September 2019, lifting  gas Blok Corridor mencapai 833 mmscfd atau mencapai 102,8% dari target APBN sebesar 810 mmscfd.

(Baca: SKK Migas Sebut Blok Rokan-Corridor dapat Integrasi dengan Sakakemang)

Enam Proyek Beroperasi Hingga Akhir Tahun

Di sisi lain, Kepala Divisi Program dan Komunikasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Wisnu Prabawa Taher menyebut ada enam proyek yang ditargetkan beroperasi hingga akhir tahun ini. "November - Desember bisa onstream total produksi 124-125 mmscfd gas, minyak sekitar 8.500," ujar Wisnu.

Salah satu proyek migas yang ditargetkan pada akhir tahun ini yakni, Buntal-5 oleh Medco E&P Natuna Ltd. Estimasi produksi 45 mmscfd dan estimasi investasi US$ 33 juta.

Ada juga proyek Bison-Iguana-Gajah Puteri oleh Premier Oil Natuna Sea B.V  yang menelan investasi US$ 171 Juta diproyeksi bisa memproduksi gas sebesar 80 mmscfd. Kemudian proyek Temelat yang dioperatori PT. Medco E&P Indonesia diproyeksi menambah produksi 10 mmscfd. Proyek Temalat menelan investasi US$ 11 Juta.

Proyek Panen yang dikerjakan PetroChina International Jabung Ltd. menelan investasi US$ 17 juta diproyeksi mampu memproduksi 2000 barel per hari (BOPD). Proyek Kedung Keris yang dioperatori ExxonMobil Cepu Ltd. diproyeksi mampu menambah produksi minyak sebesar 3,800 BOPD. Untuk mengerjakan proyek tersebut, ExxonMobil mengeluarkan dana investasi US$ 72 juta.

Terakhir, proyek Bukit Tua Phase-3 oleh Petronas Carigali Ketapang II Ltd. Proyek ini menelan investasi US$ 15 juta dengan estimasi produksi minyak sebesar 3,182 BOPD dan gas 31 mmscfd.

(Baca: Jokowi Tak Naikkan Harga Gas Industri, SKK Migas Sebut Sesuai Kontrak)

Keenam proyek tersebut diharapkan mampu meningkatkan lifting migas pada tahun depan. Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyepakati target lifting minyak pada 2020 sebesar 755 barel per hari (BOPD) pada akhir Agustus 2019.   

Target lifting minyak 2020 tersebut lebih tinggi dibanding target dalam nota RAPBN 2020 sebesar 734 BOPD, tapi lebih rendah APBN 2019 sebanyak 775 BOPD. Sedangkan target lifting gas bumi tahun depan tidak berubah, sama seperti target dalam RAPBN 2020 sebesar 1,19 juta barel setara minyak per hari (BOEPD). Data selengkapnya dalam grafik Databoks berikut ini : 

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan