Ketimbang Mobil, Pengusaha Minta Pemerintah Kembangkan Motor Listrik

Penulis: Tri Kurnia Yunianto

Editor: Ameidyo Daud

26/11/2019, 20.56 WIB

langkah ini dapat dilakukan guna menurunkan harga baterai listrik yang merupakan komponen utama mobil listrik.

Mobil listrik, motor listrik, baterai mobil listrik
ANTARA FOTO/APRILLIO AKBAR
Pameran Kendaraan Listrik Masa Depan di kawasan Monas, Jakarta, Sabtu (31/8/2019). Kadin Indonesia meminta pemerintah lebih dulu mengembangkan kendaraan listrik roda dua ketimbang roda empat.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri atau Kadin Indonesia Johnny Darmawan meminta pemerintah lebih dulu mengembangkan kendaraan listrik roda dua ketimbang roda empat. Johnny mengatakan langkah ini dapat dilakukan guna menurunkan harga baterai yang merupakan komponen utama mobil listrik.

Aturan penggunaan tenaga listrik bagi kendaraan roda dua telah diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik.  Dia mengatakan jika semua sepeda motor bisa bertenaga listrik, ujungnya harga baterai dapat ditekan karena ada kompetisi harga.

“Kalau tidak dimulai, kapan bisa turun biayanya,” di Jakarta, Selasa (26/11).

(Baca: Jepang dan Tiongkok Jajaki Investasi Kendaraan Listrik di Indonesia)

Johnny mengatakan Tiongkok telah berhasil mengaplikasikan sepeda motor dengan tenaga listrik. Dia yakin pabrikan di Indonesia telah mampu memproduksi baterai listrik untuk sepeda motor.

“Jadi anggap dalam lima tahun bisa 4 sampai 5 juta (sepeda) motor masuk (produksi),” ujar Johnny.

Mantan Presiden Direktur Toyota Astra Motor ini juga mengatakan kendala lain dalam pengembangan kendaraan listrik adalah mencari cara daur ulang baterai yang telah habis masa berlakunya. Apalagi baterai tak dapat dibuang begitu saja karena dapat mencemari lingkungan.

“Itu penting karena baterai siklusnya 10 tahun habis,” ujar dia.

Dia juga menjelaskan pada tahun 2025 ditargtekan 20% jumlah kendaraan di Indonesia bertenaga listrik. Untuk mencapai hal itu, pemerintah harus mendorong kemudahan investasi untuk mengembangkan kendaraan listrik.

Salah satu caranya dengan menjadikan moratorium ekspor nikel Januari 2020 sebagai untuk menjadikan RI produsen utama baterai lithium. "Dengan demikian, pasar domestik diperkuat dan potensi ekspor bisa ditingkatkan," kata dia.

(Baca: LG Chemical Bakal Memulai Studi Investasi Pabrik Baterai di Indonesia)

Sementara, perwakilan Olifen Global Indonesia Tubagus Mansyur Amin menjelaskan kendaraan bermotor listrik dalam beberapa tahun ke depan bukan lagi menjadi alternatif kendaraan berbahan bakar minyak. Perkembangan kendaraan dalam beberapa dekade ke depan akan mendominasi jalan raya.

"Dengan semakin terbatasnya energi fosil, sumber-sumber energi alternatif akan menjadi sumber energi utama. Termasuk dalam hal ini listrik sebagai sumber energi kendaraan," kata dia.

Reporter: Tri Kurnia Yunianto

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan