Pasar Cermati Hubungan Tiongkok-AS, Mayoritas Bursa Saham Asia Merah

Penulis: Martha Ruth Thertina

3/12/2019, 14.48 WIB

Terbuka kemungkinan AS kembali menaikkan tarif untuk barang impor dari Tiongkok bila tak ada kesepakatan dagang hingga pertengahan Desember ini.

IHSG, Perang dagang
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Pegawai melintas di depan layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (7/10/2019).

Mayoritas indeks di bursa saham Asia, termasuk indeks harga saham gabungan (IHSG), bergerak di zona merah pada perdagangan Selasa, 3 Desember 2019. Ini terjadi seiring mencuatnya kembali kekhawatiran mengenai kelanjutan perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pertama perdagangan hari ini ditutup terkoreksi 0,24% ke level 6.115,55, setelah sempat menguat beberapa saat. Tercatat ada 160 saham yang naik, 201 terkoreksi, dan 146 saham stagnan.

Saat berita ini ditulis, IHSG tercatat masih bertengger di zona merah, meskipun investor asing masih membukukan pembelian bersih saham Rp 25,26 miliar di keseluruhan pasar.

(Baca: Bursa Indonesia Luncurkan Dua Indeks Hijau Tahun Depan)

Sederet indeks di bursa saham Asia juga bertengger di zona merah. Indeks Nikkei 225 di Jepang terkoreksi 0,64%, Hang Seng di Hong Kong 0,3%, Kospi di Korea Selatan 0,38%, Strait Times di Singapura 0,6%, FTSE Bursa Malaysia KLCI 0,85%. Di sisi lain, CSI 300 di Tiongkok naik 0,33%.

Pergerakan di bursa saham Asia ini mengekor bursa saham AS dan Eropa yang melemah pada perdagangan sebelumnya. Hal ini terjadi seiring data manufaktur AS yang lemah. Selain itu, pernyataan Sekretaris Perdagangan AS Wilbur Ross soal kemungkinan kenaikan tarif barang impor dari Tiongkok, bila tak ada kesepakatan dengan negara tersebut hingga tengah Desember.

(Baca: Picu Ketegangan Baru, AS Kenakan Tarif Baja ke Brasil dan Argentina)

Sebelumnya, Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, sikap pelaku pasar saat ini memang masih dipengaruhi oleh hubungan AS-Tiongkok. "Selama kesepakatan belum ditanda tangani, market akan seperti ini saja,” kata dia.

Meski begitu, Nico menilai positif sikap sabar Tiongkok terkait dukungan AS terhadap demokrasi di Hong Kong. Sikap itu dinilai bisa meningkatkan nilai tawar negara tersebut dalam negosiasi dagang dengan AS.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan