Ditekan AS, Indonesia Batal Membeli Su-35 dari Rusia

Penulis: Agung Jatmiko

14/3/2020, 20.36 WIB

Indonesia terancam terkena sanksi ekonomi, apabila tetap membeli peralatan militer Rusia, lewat Countering America's Adversaries Through Sanction Act.

Sukhoi Su-35, batalnya rencana pembelian Su-35
Dok. UACRussia.ru
Pesawat jet tempur Sukhoi SU-35 yang diproduksi oleh United Aircraft Corporation (UAC) Rusia merupakan modernisasi dari tipe SU-27.

Indonesia disebut membatalkan rencana pembelian jet tempur Rusia, Sukhoi Su-35, karena Amerika Serikat (AS) mengancam akan memberikan sanksi apabila Indonesia tetap melanjutkan rencana tersebut.

Mengutip Bloomberg, Kamis (12/3), Indonesia membatalkan rencana pembelian 11 jet tempur Su-35 senilai US$ 1,1 miliar setelah AS mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap Indonesia, karena membeli perlengkapan militer dari Rusia. Dasar sanksi berdasarkan Countering America's Adversaries Through Sanctions Act .

Sebelumnya, pada Agustus 2017 pemerintah berencana membeli 11 Su-35 dengan imbalan Rusia akan membeli komoditas Indonesia, seperti minyak kelapa sawit, kopi, teh, furnitur, dan rempah-rempah. Perjanjian tersebut akhirnya ditandatangani oleh Menteri Pertahanan Indonesia saat itu, Ryamizard Ryacudu, pada Februari 2018.

Namun, berdasarkan Countering America's Adversaries Through Sanctions Act, yang ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump Agustus 2017, Indonesia terancam dikenai sanksi jika membeli perlengkapan militer Rusia.

Melalui Countering America's Adversaries Through Sanctions Act, AS dapat menjatuhkan sanksi ekonomi kepada negara yang mencoba melawan atau melakukan kegiatan yang berpotensi merugikan kepentingan AS.

(Baca: Prabowo Tak Akan Terburu-buru Putuskan Beli Sukhoi dari Rusia)

Pertemuan yang diadakan beberapa kali antara perwakilan Departemen Pertahanan AS dan Indonesia membahas mengapa Indonesia tidak diperbolehkan membeli peralatan militer Rusia. Namun, perwakilan AS hanya menjawab bahwa hal tersebut merupakan kebijakan AS.

Sebagai gantinya, AS menawarkan kepada Indonesia untuk membeli jet tempur F-16 Viper. Namun, Indonesia justru melirik F-35, yang merupakan bagian dari program Joint Strike Fighter (JSF) AS.

Batalnya kesepakatan pembelian Su-35 muncul saat perwakilan Indonesia menyimpulkan bahwa mengambil posisi yang berlawanan dengan AS, merupakan langkah yang salah.

Bloomberg juga melaporkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah berdiskusi dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Ketiganya dilaporkan mengambil kesimpulan, bahwa keputusan pembelian Su-35 akan membahayakan hubungan dagang dengan AS.

Menanggapi batalnya kesepakatan pembelian Su-35 ini, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva mengecam langkah AS, yang ia sebut sebagai praktik yang melanggar aturan dan norma bisnis yang transparan dan sah.

"Bukan rahasia lagi AS memberikan tekanan kepada negara-negara yang berniat membeli peralatan pertahanan dari Rusia. Tujuannya jelas, agar negara-negara tersebut beralih ke Washington," ujar Vorobieva, dilansir dari Bloomberg, Kamis (12/3).

(Baca: Pemerintah Lirik Dassault Rafale dan Sukhoi Su-35, Mana Lebih Unggul?)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan