Ditopang Segmen Ritel, Laba Bersih BRI Syariah Melonjak 150%
PT Bank BRISyariah Tbk (BRI Syariah) berhasil menorehkan kinerja yang positif sepanjang kuartal I 2020. Raihan kinerja positif ini dicapai berkat peningkatan pembiayaan di segmen ritel.
Direktur Bisnis Komersil BRI Syariah Kokok Alun Akbar mengungkapkan, sepanjang kuartal I 2020 perusahaan mampu menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 30,45 triliun, naik 34,28% year-on-year (yoy) dibandingkan kuartal I 2019 yang sebesar Rp 22,6 triliun.
"Pertumbuhan pembiayaan utamanya ditopang segmen ritel, sebesar Rp 20,5 triliun, tumbuh 49,74%. Segmen ritel ini termasuk segmen segmen kecil menengah dan kemitraan, konsumer serta mikro," kata Kokok, dalam video conference, Selasa (5/5).
Rinciannya, per 31 Maret 20020 pembiayaan segmen kecil menengah dan kemitraan tercatat mencapai Rp 6,07 triliun, tumbuh 71% yoy. Pembiayaan segmen konsumer sebesar Rp 8,94 triliun, tumbuh 31,6% yoy. Sementara, pembiayaan segmen mikro mencapai Rp 5,6 triliun, tumbuh 63,55% yoy.
Pertumbuhan penyaluran pembiayaan ini berdampak positif bagi pendapatan BRI Syariah. Sepanjang kuartal I 2020, pendapatan dari penyaluran dana BRI Syariah tercatat mencapai Rp 960,83 miliar, naik 18,37% dibanding kuartal I 2019.
Meski demikian, lonjakan pendapatan dari penyaluran mampu menopang kinerja BRI Syariah sepanjang kuartal I 2020, dengan raihan laba sebesar Rp 75,15 miliar, naik 150% dibandingkan kuartal I 2019 yang sebesar Rp 30,05 miliar.
Dari sisi aset, BRI Syariah mencatat peningkatan sebesar 9,51% menjadi Rp 42,2 triliun pada kuartal I 2020. Selain itu, BRI Syariah juga mencatatkan peningkatan dana pihak ketiga (DPK), sebesar 77,51%.
(Baca: Tiga Bulan Berjalan, Tunjuk Rumah BNI Syariah Capai Rp 766,7 Milliar)
Menurut Kokok, salah satu faktor pertumbuhan DPK BRI Syariah adalah tabungan payroll yang tumbuh 46% menjadi Rp 627,2 milyar pada kuartal I 2020.
Tabungan payroll menjadi salah satu fokus BRI Syariah dalam pengembangan bisnis, sebab keberadaannya membuka potensi peningkatan penyaluran pembiayaan dalam bentuk salary based financing.
“Ini juga merupakan strategi pemilihan bisnis yang memiliki daya tahan lebih tinggi pada saat pandemi. Karena cash flow nasabah tabungan payroll terpantau oleh kami, sehingga pembiayaan nasabah payroll ini beresiko lebih rendah,” ujarnya.
Dari sisi kesehatan perbankan, BRI Syariah juga mencatatkan rasio keuangan yang terkendali, baik dari segi kualitas pembiayaan maupun likuiditas.
Sepanjang kuartal I 2020, rasio pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) tercatat berada di level 2,95%, jauh lebih baik dibanding kuartal I 2019 yang berada di level 4,34%. Targetnya, BRI Syariah mampu menurunkan hingga 2,5% akhir tahun ini.
Sementara, rasio likuiditas yang ditunjukkan oleh financing to deposit ratio (FDR) juga tergolong aman, yakni 92,11%. Level FDR ini masih dalam zona yang dianjurkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni 92-94%.
Terkait pandemi virus corona (Covid-19), BRI Syariah mengakui hal itu akan berdampak pada bank, sehingga ke depan perseroan akan semakin selektif melakukan ekspansi. Selain itu perseroan juga akan mengidentifikasi nasabah-nasabah yang usahanya berpotensi terdampak pandemi virus Corona.
(Baca: Efek Penurunan GWM, Likuiditas BRI dan Bank Mandiri Makin Kuat)
