Imbas Kebijakan Trump, Harga Minyak Indonesia Mei Turun 5%
Harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) periode Mei 2017 merosot menjadi US$ 47,09 per barel dari level harga bulan sebelumnya sebesarUS$ 49,56 per barel . Penurunan harga sebesar 5% ini sejalan dengan perkembangan harga minyak di pasar internasional sejak April lalu.
Harga minyak jenis Brent turun dari US$ 53,82 per barel menjadi US$ 51,39 per barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun dari US$ 51,12 per barel menjadi US$ 48,54 per barel pada Mei 2017. Sama halnya dengan harga minyak OPEC yang turun dari US$ 51,36 per barel menjadi US$ 49,07 per barel.
(Baca: APBN 2017 Direvisi, Kementerian ESDM Usul Harga Minyak Tetap US$ 45)
Penurunan harga ini merupakan dampak dari rencana Amerika Serikat (AS) menjual cadangan strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR). “Terdapat sentimen negatif pada pasar minyak dunia setelah adanya rencana Presiden Donald Trump menjual SPR milik Amerika Serikat selama 10 tahun terhitung mulai tahun 2018," tulis Kementerian Eenergi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam situs resminya, Selasa (6/6).
Faktor lainnya adalah dampak peningkatan produksi kelompok negara pengekspor minyak (OPEC) dan AS. Berdasarkan publikasi International Energy Agency (IEA) produksi minyak negara OPEC meningkat dari 65 ribu barel per hari (bph) menjadi 31,78 juta bph. Sementara produksi AS naik dari 195 ribu bph menjadi 19,7 juta bph.
Peningkatan stok minyak mentah komersial di negara maju (OECD) juga menekan harga minyak. Berdasarkan publikasi IEA Mei 2017, stok minyak mentah komersial di negara-negara OECD mencapai rekor tertinggi sebesar 1,235 juta barel. Penyebabnya, impor yang tinggi, penurunan permintaan kilang dan meningkatnya produksi minyak mentah di AS.
(Baca: Negara Arab Minta Indonesia Aktif Lagi di OPEC Sebagai Penyeimbang)
Revisi pertumbuhan pasokan minyak mentah negara-negara non-OPEC turut memukul harga minyak. Berdasarkan data awal, pertumbuhan pasokan minyak mentah negara-negara non-OPEC tahun ini direvisi naik 373 ribu barel per hari menjadi 58,25 juta barel per hari dibandingkan publikasi bulan sebelumnya.
Penyebab lain penurunan harga minyak adalah peningkatan jumlah rig di AS. Berdasarkan data Baker Hughes Incorporated, terdapat peningkatan jumlah rig di Amerika Serikat pada April 2017 sebanyak 64 rig dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 853 rig.
Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah juga dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, menurunnya utilisasi kilang di Jepang sebesar 1,6% menjadi 3,14 juta bph dibandingkan bulan sebelumnya.
(Baca: Tiga Negara Arab Putus Hubungan dengan Qatar, Harga Minyak Naik)
Kedua, peningkatan pasokan minyak mentah di Asia Pasifik pada kuartal-II tahun ini sebesar 0,07 juta bph dibandingkan kuartal-I lalu menjadi sebesar 0,43 juta bph.
Ketiga, berdasarkan data awal dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, permintaan minyak mentah di negara tersebut tahun ini merosot 3,8% dibandingkan tahun lalu (year-on-year/YoY).
