Baru Diresmikan Jokowi, PLTA Genyem di Papua Bermasalah
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyayangkan terkendalanya pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Orya Genyem di Jayapura, Papua. PLTA yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 17 Oktober 2016 lalu ini bermasalah karena perencanaan pembangunan yang buruk.
Sejak dimulai pembangunannya delapan tahun lalu hingga mulai beroperasi tahun ini, PLTA Orya Genyem memang sering bermasalah. Setiap musim penghujan, pengoperasian PLTA ini oleh lumpur. Sedangkan saat musim kering, debit air di Sungai Orya berkurang, sehingga PLTA ini hanya bisa beroperasi 3-4 jam per hari.
Direktur Jenderal Energi Baru dan Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengakui permasalahan teknis seperti ini bisa saja terjadi pada PLTA lain. Namun, seharusnya hal ini sudah bisa diantisipasi saat perencanaan pembangunan pembangkit ini.
Dia menganggap kendala dalam pengoperasian PLTA Genyem merupakan bukti kelalaian dalam perencanaan pembangunan. "Perancangannya kurang bagus. Padahal kan itu kajian teknis mendasar," ujar Rida saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (8/11).
Seharusnya PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) melakukan perencanaan yang lebih rinci dan seksama sebelum membangun pembangkit ini. Setidaknya ada survei mendalam untuk melihat kelayakan sungai sebagai tenaga pembangkit.
Survei ini membutuhkan waktu yang cukup lama, minimal satu tahun, agar kajiannya bisa lebih matang. Dia mengingatkan hal ini agar tidak ada lagi permasalahan yang sama terulang di kemudian hari.
General Manager PLN Wilayah Papua dan Papua Barat, Yohanes Sukrislismono menjelaskan survei Sungai Orya telah dilakukan pada sekitar 2008 lalu. Saat itu, kondisi hulu sungai masih bagus, tidak ada sedimentasi lumpur yang luar biasa seperti sekarang.
Tahap pembangunannya memerlukan waktu yang cukup panjang, hingga tujuh tahun. “Pembangunannya panjang karena masalah tanah dan segala macam, baru mulai beroperasi sekitar Desember 2015," kata Yohanes, seperti dikutip detik.com, Selasa (8/11).
Seperti diketahui, saat ini wilayah Jayapura kembali harus mengalami pemadaman listrik. PLTA Genyem yang berkapasitas 2x10 megawatt (MW) bermasalah dan tidak bisa beroperasi penuh. Dari dua mesin yang terdapat pada pembangkit ini, hanya satu mesin saja yang bisa beroperasi.
Penyebab utamanya adalah terjadi sedimentasi yang cukup tinggi di hulu sungai, sehingga mengganggu aliran air sungai yang menjadi sumber energi untuk pembangkit tersebut. Lumpur yang menumpuk di sungai ini mencapai ketinggian 3 meter, ditambah lagi sampah batang pohon yang menyebabkan kerusakan pada mesin pembangkit.
Saat ini pihak PLN sedang berupaya menemui Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua untuk mencari solusi. PLN menganggap banyaknya sedimentasi yang terjadi di Sungai Orya saat ini, dikarenakan banyaknya penebangan pohon di hutan yang berada di hulu Sungai Orya.
Agar PLTA Orya Genyem bisa beroperasi kembali, PLN telah menyiagakan alat-alat berat. Peralatan ini digunakan untuk mengeruk lumpur dan sampah pohon yang menghalangi aliran air Sungai Orya.
