Ini Profil Naryanto Wagimin yang Ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Dirjen Migas
KATADATA ? Menteri ESDM Sudirman Said telah menunjuk Naryanto Wagimin sebagai pelaksana tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) yang baru. Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas itu menggantikan Edy Hermantoro yang diberhentikan Selasa (4/11).
Naryanto merupakan pegawai Kementerian ESDM yang meniti karier di lingkungan Direktorat Jenderal Migas sejak 1990. Lulusan jurusan teknik geologi Universitas Gadjah Mada pada 1988 ini, sekarang merupakan salah satu birokrat senior di kementerian.
Sebagai Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas, dia juga berperan dalam menyiapkan roadmap untuk mendorong kegiatan produksi di sektor industri ini. Dia pun menjadi ketua tim negosiasi dalam perpanjangan kontrak Blok Mahakam dengan Total Indonesie E&P.
Terkait persoalan ini, dia menyebutkan, keputusan perpajangan kontrak akan diputuskan oleh presiden. Adapun tim negosiasi hanya menyiapkan empat opsi terhadap pengelolaan blok migas yang kontraknya akan habis pada 2017 tersebut.
(Baca: Dinilai Berkinerja Buruk, Dirjen Migas Dilengserkan)
Pertama, blok migas yang habis diserahkan kepada Pertamina. Kedua, kontrak dilanjutkan pengelola sebelumnya. Ketiga, kontrak dikelola bersama antara Pertamina dan pengelola sebelumnya. Keempat, ada masa transisi yang dikelola bersama Pertamina dan kontraktor sebelumnya, tapi operator tetap dipegang kontraktor sebelumnya.
?Jika Pertamina ingin mengelola Blok Mahakam, pemerintah tetap terbuka. Tapi mereka (Pertamina) harus bertanggung jawab atas konsekuensinya. Jika produksi (migas) anjlok, maka pemerintah jangan disalahkan,? tuturnya.
Sementara itu, terkait Dirjen Migas definitif, Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, akan ditunjuk langsung oleh Presiden.
Menurut Direktur Energy Watch Mamit Setiawan, posisi Dirjen Migas sangat strategis dalam upaya mencapai tujuan pemerintah di sektor energi.
Ada beberapa tugas penting yang akan dihadapi Naryanto, salah satunya menjalin hubungan yang lebih dengan SKK Migas. Apalagi tren produksi minyak terus menurun. Saat ini, produksi minyak nasional hanya 792.000 barel per hari, padahal target dalam APBN mencapai 818.000 barel per hari.
?Kerja sama dengan SKK Migas penting agar stabil dan tidak alami penurunan yang besar ke depan,? yang dihubungi Katadata, Selasa (4/11).
