Dampak Pandemi, OPEC Turunkan Prediksi Permintaan Minyak di 2030

Sorta Tobing
9 Oktober 2020, 11:23
OPEC, harga minyak, covid-19, pandemi corona, konsumsi minyak, permintaan minyak
Chevron
Ilustrasi. OPEC memperkirakan permintaan minyak pada 2030 menjadi 107,2 juta barel per hari. Angkanya turun 1,1 juta barel karena konsumsi global terdampak pandemi corona.

Permintaan minyak dunia akan naik menjadi 107,2 juta barel per hari pada 2030 dari 90,7 juta barel per hari pada tahun ini. Namun, organisasi negara pengekspor minyak atau OPEC menyebut perkiraan itu menurun 1,1 juta barel per hari yang mencerminkan dampak pandemi corona terhadap ekonomi dan konsumsi.

Prediksi ini termuat dalam Prospek Minyak Dunia 2020 yang dilucurkan OPEC kemarin, Kamis (8/10). “Permintaan minyak di masa depan kemungkinan tetap di bawah proyeksi sebelumnya karena masih ada efek penutupan (lockdown) terkait Covid-19,” tulis laporan itu, dikutip dari Reuters.

Organisasi itu sebenarnya khawatir dengan pertumbuhan bisnis minyak di masa depan. Faktor peralihan pascapandemi akan berdampak signifikan terhadap konsumsi global. Masyarakat dunia akan mulai terbiasa dengan bekerja di rumah dan mengurangi perjalanan sehingga penggunaan bahan bakar minyak pun menurun.

Konsumsi BBM juga semakin turun apabila konsumen mulai beralih ke kendaraan listrik. Tren dunia yang mulai beralih energi bersih akan semakin mendorong perubahan tersebut. “Ada banyak langkah-langkah efisiensi energi, yang berpotensi menekan permintaan minyak di masa depan ke tingkat jauh lebih rendah,” kata OPEC.

Penurunan permintaan secara permanen sudah pasti akan menekan harga minyak. Organisasi itu bersama dengan Rusia dan sekutu lainnya yang disebut OPEC+ telah menurunkan pengurangan produksi 9,7 juta barel per hari tahun ini. Angkanya setara dengan 10% dari pasokan global.

Beda Prediksi OPEC dan Perusahaan Energi Global

Tahun depan, OPEC memprediksi permintaan minyak akan naik, bahkan melonjak ke 97,7 juta barel per hari. Lalu, pada 2022 angkanya di 99,8 juta barel per hari dan tumbuh menjadi 102,6 juta barel per hari pada 2024. Produksi minyak akan naik pada 2021 dari 30,7 juta barel per hari pada tahun ini. Pada 2025 kemungkinan akan menjadi 33,2 juta barel per hari, di bawal level 2019.

Prediksinya peningkatan produksi masih terjadi dalam beberapa dekade mendatang. Peralihan ke mobil listrik dan energi terbarukan akan mencapai puncaknya pada 2040. “Minyak akan terus menjadi bagian terbesar dari bauran energi pada tahun 2045,” kata Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo dalam kata pengantar laporan tersebut, dikutip dari AlJazeera.

Pandangan itu berbeda dengan pendapat perusahaan energi dunia. BP dalam laporannya bulan lalu mengatakan permintaan minyak telah mencapai puncaknya tahun lalu. Pasar minyak mentah mungkin tidak akan pernah pulih dari pukulan telak virus corona.

BP memprediksi akan terjadinya pergeseran konsumsi energi. Pada 2050, sumber energi utama yang dikonsumsi berasal dari energi terbarukan, menggantikan minyak yang menjadi sumber utama pada 2018. 

Energi terbarukan (termasuk biofuel) akan mendominasi hingga 44% dalam skenario cepat (rapid). Untuk skenario net zero dan business as usual (BAU), konsumsi energi terbarukan mencapai 59% dan 22%. Padahal, pada 2018, energi tersebut hanya dikonsumsi 5% dibandingkan sumber energi lainnya.

Tak heran kini perusahaan asal Inggris itu akan fokus melakukan transisi ke energi bersih. Royal Dutch Shell dan Total pun melakukan hal serupa. Ketiga perusahaan akan lebih banyak melakukan proyek energi terbarukan, ketimbang terus-menerus memproduksi minyak dan gas bumi. Hal ini sejalan pula dengan tren negara-negara di dunia untuk menurunkan emisi karbonnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...