Freeport Tak Bisa Olah 100 Ribu Ton Konsentrat Akibat Perbaikan Pabrik Oksigen

Mela Syaharani
22 Agustus 2025, 18:35
Peresmian fasilitas pemurnian logam mulia atau precious metal refinery (PMR) milik Freeport Indonesia di Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur pada Senin (17/3).\
Katadata/Ryandanu
Peresmian fasilitas pemurnian logam mulia atau precious metal refinery (PMR) milik Freeport Indonesia di Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur pada Senin (17/3).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Freeport Indonesia (PTFI) tidak bisa memproses sekitar 100 ribu ton konsentrat tembaga di fasilitas peleburan dan pemurnian (smelter) PT Smelting. Hal ini disebabkan adanya perbaikan di pabrik oksigen PT Smelting yang berimbas pada penundaan startup fasilitas tersebut.

“Perbaikan ini telah menyebabkan penundaan startup fasilitas smelter, setelah shutdown selama sebulan untuk perawatan,” kata VP Corporate Communications PTFI, Katri Krisnati, saat dihubungi Katadata, Jumat (22/8).

Katri menjelaskan, perbaikan pabrik oksigen ditargetkan selesai pada awal September 2025. Smelter PT Smelting sendiri memiliki kapasitas pemurnian konsentrat hingga 1,3 juta ton per tahun.

“Dengan demikian, penundaan startup ini diperkirakan mengakibatkan sekitar 100 ribu ton konsentrat tidak dapat diproses. Kami sedang melakukan analisis mendalam terhadap dampak penundaan ini terhadap operasi produksi upstream PTFI,” ujarnya.

Sebelumnya, induk usaha PTFI, Freeport McMoran juga menyampaikan akan menjual bijih tembaga imbas gangguan smelter di Indonesia.

PT Smelting merupakan smelter pertama PTFI yang dibangun pada 1996 bersama konsorsium Jepang, dan dioperasikan Mitsubishi. Kehadiran smelter ini merupakan bentuk kepatuhan PTFI terhadap Kontrak Karya II.

Smelter Manyar

Selain perbaikan PT Smelting, PTFI juga sempat menghadapi insiden kebakaran di Smelter Manyar pada Oktober 2024. Smelter tersebut baru kembali beroperasi pada Mei 2025.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menjelaskan Smelter Manyar mulai menghasilkan katoda tembaga pada pekan ke-4 bulan Juni. Konsentrat yang dimasukkan ke furnace (perapian) diolah menjadi anoda tembaga, lalu dibawa ke electrorefinery hingga menjadi katoda tembaga.

Menurut Tony, kembalinya Smelter Manyar merupakan capaian penting setelah menghadapi berbagai tantangan, sekaligus wujud komitmen PTFI terhadap program hilirisasi mineral. “Produksi smelter sebetulnya akan dimulai pekan ketiga Juni. Namun, proses perbaikan bisa diselesaikan lebih cepat,” katanya.

Untuk mempercepat perbaikan, PTFI mendatangkan material penting dari luar negeri menggunakan pesawat kargo berbadan lebar, seperti Boeing 747 dan Antonov-AN124, dengan total lebih dari 300 ton peralatan.

Saat ini, Smelter Manyar memasuki fase ramp-up, yakni peningkatan kapasitas produksi secara bertahap dari 40% hingga 100% pada Desember 2025.

“Akselerasi perbaikan dan produksi smelter ini menjadi bukti nyata PTFI sebagai perusahaan tambang terintegrasi dari hulu hingga hilir yang mendukung penuh program hilirisasi sumber daya mineral pemerintah sekaligus komitmen terhadap IUPK,” ujar Tony.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...