Pertamina Tambah Impor untuk Genjot Stok Pertalite saat Natal dan Tahun Baru
PT Pertamina Patra Niaga akan menambah cadangan Pertalite nasional 1,4 juta kiloliter, khusus menghadapi musim liburan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Caranya dengan menambah produksi domestik dan impor.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi mendata stok cadangan Pertalite sampai akhir tahun masih sangat cukup, yakni mendekati tiga juta kiloliter. Sebab, prognosa realisasi konsumsi Pertalite sampai akhir tahun ini hanya 90,43% dari total kuota 31,13 juta kiloliter.
"Selain dari produksi dalam negeri, kami ada tambahan impor Pertalite untuk menaikkan ketahanan stok nasional lebih dari 21 hari. Kami mengusahakan ketahanan Pertalite nasional menjadi 22 hari sampai 23 hari pada akhir tahun ini," kata Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra di Gedung DPR, Senin (24/11) malam.
Ega juga berencana menambah ketahanan Pertamax Turbo melalui peningkatan produksi domestik dan impor pada akhir tahun ini. Menurut dia, Pertamina Patra Niaga akan menambah produksi Pertamax Turbo dari dua kilang, yakni Kilang Cilacap dan Kilang Balongan.
Selain ketahanan stok, Ega akan menambah kapasitas distribusi dengan menambah 346 unit mobil tangki beserta awak pengemudi. Ega pun berniat menambah lokasi-lokasi mobil tangki kantong di wilayah-wilayah tertentu untuk mempercepat pengisian truk tangki di terminal BBM.
Terakhir, Ega berencana memperpanjang waktu operasi sekitar 1.800 unit SPBU milik pertamina menjadi 24 jam mulai 15 Desember. "Hal ini penting agar Pertamina dapat memberikan layanan lebih luas dan lebih lama kepada masyarakat," ujarnya.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Laode Sulaeman mencatat ketahanan stok BBM nasional kini telah naik menjadi 20,2 hari sejak kemarin, Minggu (23/11). Menurut dia, angka ini harus mencapai setidaknya 21,08 hari lantaran momentum musim liburan Nataru 2025/2026 berdekatan dengan Ramadan 2026.
Ramadan 2026 akan jatuh pada 18 Februari sampai 19 Maret 2026. Jeda antara Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 dengan musim mudik Lebaran 2026 berselang kurang dari tiga bulan.
"Posko Nataru 2025/2026 akan dilaksanakan lebih awal dan selesai lebih akhir dari tahun lalu. Sebab, jarak antara Nataru 2025/2026 dan Lebaran 2026 berdekatan, sehingga stok BBM nasional harus kami jaga stabil akhir tahun ini dan awal 2026," kata Laode.
Sebelumnya, Institute of Essential Service Reform atau IESR memproyeksi potensi gangguan distribusi BBM dan LPG akibat cuaca ekstrem selama Nataru 2025/2026. CEO IESR Fabby Tumiwa mengatakan ada empat hal yang harus dilakukan pemerintah untuk memastikan kelancaran distribusi BBM, yakni:
- Memastikan stok BBM nasional cukup untuk 18 - 21 hari ke depan sesuai dengan ketentuan
- Meningkatkan jumlah stok di terminal utama BBM di setiap pulau, termasuk mengelola manajemen logistik di terminal-terminal BBM.
- Untuk daerah-daerah yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi, Pertamina harus mempersiapkan sistem emergency delivery
- Melakukan koordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKGndan lembaga lain untuk mengantisipasi risiko bencana.
Fabby mengakui, selain masalah infrastruktur, hambatan terbesar dalam distribusi BBM di Indonesia yakni faktor geografis, wilayah distribusi yang luas, ketersediaan infrastruktur yang tidak merata, serta biaya distribusi yang mahal.
“Selain itu, untuk BBM subsidi, ada kuota atau volume yang harus diikuti/dipatuhi. Ini membuat distribusi BBM mengalami kendala karena stok BBM bersubsidi terbatas,” ujar Fabby kepada Katadata.co.id, Selasa (18/11).
