Vale (INCO) Pacu 3 Proyek Smelter Nikel Baru, Rampung Bertahap hingga 2027

Mela Syaharani
20 Januari 2026, 05:40
Vale
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU
Pekerja menggunakan pakaian tahan api saat mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Selasa (21/10/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terus mempercepat langkah hilirisasi nikel sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong peningkatan nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri. Sebagai salah satu produsen nikel terbesar di Indonesia, perseroan tengah menggarap sejumlah proyek strategis berupa pembangunan fasilitas pemurnian dan pengolahan atau smelter di berbagai wilayah Sulawesi.

Proyek-proyek tersebut menjadi kunci bagi Vale untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik yang berkembang pesat secara global. Investasi besar yang digelontorkan perusahaan tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperkuat keberlanjutan operasional jangka panjang.

Manajemen Vale mengatakan, tiga proyek pembangunan fasilitas pemurnian dan pengolahan (smelter) mereka di Pulau Sulawesi ditargetkan ditargetkan selesai secara bertahap hingga 2027. Direktur Utama Vale Bernardus Irmanto mengatakan pembangunan proyek-proyek ini merupakan komitmen hilirisasi perusahaan yang dimandatkan dalam izin usaha pertambangan khusus (IUPK).

“Progres pembangunan smelternya sudah sangat baik, tambangnya sudah siap,” kata pria yang akrab disebut Anto dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (19/1).

Anto mengataka ntiga proyek smelter yang kini tengah digarap yaitu IGP Sorowako Limonite, IGP Morowali, dan IGP Pomalaa. Bagaimana perkembangan pembangunan ketiga smelter?

Progres Proyek Smelter Vale 

Manajemen menjelaskan, pada proyek IGP Sorowako Limonite yang dikerjakan bersama Huayou, nilai investasi mencapai US$2,2 miliar atau sekitar Rp37,25 triliun untuk pembangunan smelter HPAL dan tambang. Untuk sisi tambang, progres konstruksi telah mencapai 37% dengan kapasitas produksi yang ditargetkan sebesar 11,5 juta dmt jika memang dry metric ton limonite per tahun. 

Sementara itu, pada fasilitas smelter HPAL, produk yang akan dihasilkan berupa Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan kapasitas 60 ktpa. Progres konstruksi smelter baru mencapai 17% dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

Selanjutnya pada proyek IGP Morowali yang melibatkan kerja sama Vale, GEM, dan EcoPro, total investasi yang digelontorkan sebesar US$2 miliar untuk pembangunan smelter HPAL dan tambang. Tambang di wilayah Bahodopi telah mulai beroperasi sejak kuartal I 2025 dengan kapasitas produksi 5,5 juta wmt saprolite dan 10,4 juta limonite. 

Status konstruksi tambang fase pertama sudah hampir rampung, yakni mencapai 99%. Adapun pada sisi smelter, produk yang akan dihasilkan adalah MHP dengan kapasitas produksi tahunan 66 ktpa. Saat ini progres pembangunan smelter baru mencapai 22% dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2026 atau 2027.

Proyek lainnya adalah IGP Pomalaa yang digarap bersama Ford dan Huayou dengan nilai investasi terbesar, yakni mencapai US$4,5 miliar untuk pembangunan smelter HPAL dan tambang. Pada bagian tambang, kapasitas produksi tahunan direncanakan mencapai 7 juta wmt saprolite dan 21 juta wmt limonite dengan progres konstruksi telah mencapai 60% serta ditargetkan mulai beroperasi pada 2026. 

Untuk fasilitas smelter, produk yang akan dihasilkan juga berupa MHP dengan kapasitas 120 ktpa. Hingga saat ini, progres pembangunan smelter telah mencapai 50% dan ditargetkan beroperasi pada 2026.

Anto menjelaskan pada proyek IGP Pomalaa, dalam pengoperasian smelter HPAL kedua perusahaan yakni Ford dan Huayou hanya akan mendapatkan suplai bijih nikel dari PT Vale saja. Hal ini sesuai dengan kesepakatan yang ditetapkan.

“Karena memang Ford sebagai perusahaan automobil sangat concern dalam hal sustainability,” ucapnya.

Sementara itu untuk proyek IGP Sorowako, Vale saat ini masih dalam proses pencarian calon mitra ketiga mereka. Anto menyebut proyek ini memiliki perkembangan pembangunan paling lambat dibandingkan dua proyek lainnya.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...