ESDM sebut Indonesia Tetap Stop Impor Solar Meski Sepakati Perjanjian Tarif AS
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan rencana pemerintah menyetop impor Solar mulai tahun ini tetap berlanjut. Meski Indonesia sudah meneken perjanjian kesepakatan tarif dengan Amerika Serikat (AS) yang salah satunya memuat tentang impor migas asal AS.
“Ini kan sesuai kesepakatan yang dilakukan dengan AS untuk menyeimbangkan perdagangan kedua pihak. Akhirnya kita memang harus sepakat untuk membeli BBM dari AS,” kata Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia saat ditemui di kantornya, Jumat (20/2).
Dalam perjanjian yang diberi judul "Toward a New Golden Age for the US-Indonesia Alliance" ini komoditas migas yang diimpor adalah minyak mentah atau crude, liquefied petroleum gas (LPG), dan produk BBM.
Menurut Anggia komoditas yang diimpor dari AS berbeda dengan jenis produk yang distop impornya.
“(Meski ada perjanjian tarif), ini tidak melepaskan kita untuk tetap mengedepankan kemandirian energi. Termasuk komitmen untuk stop Impor Solar dan lainnya tetap berjalan,” ujarnya.
Dalam rincian dokumen yang diteken pagi ini, Indonesia akan mengimpor komoditas energi asal AS senilai US$ 15 miliar atau Rp 253,27 triliun. Nilai impor tersebut berasal dari tiga komoditas, antara lain:
- Impor liquified petroleum gas (LPG) senilai US$ 3,5 miliar
- Impor minyak mentah atau crude sebesar US$ 4,5 miliar
- Impor BBM atau bensin olahan sebanyak US$ 7 miliar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan tujuan dan visi perjanjian ini untuk mewujudkan kemakmuran ekonomi bersama, rantai pasok yang kuat, dan menghormati kedaulatan masing-masing negara.
“Jadi saya garis bawahi, menghormati kedaulatan masing-masing negara menjadi bagian perjanjian yang ditandatangani,” kata Airlangga dalam konferensi pers secara daring, Jumat (20/2).
Selain migas, perjanjian tarif juga membahas terkait beberapa komoditas energi lainnya. Mulai dari batu bara kokas atau metalurgi, bioetanol, reaktor nuklir, dan mineral kritis.
