Negara G7 Bahas Pelepasan Cadangan Minyak Darurat, Hanya 5 Kali dalam Sejarah
Menteri Keuangan kelompok G7 akan membahas potensi pelepasan cadangan minyak pada Senin (9/3). Hal ini dilakukan karena kondisi perang di Timur Tengah menghambat tersalurnya pasokan minyak ke pasar global sehingga menyebabkan lonjakan harga.
Sumber Bloomberg menyebut pertemuan tersebut diinisiasi oleh Prancis yang memegang presidensi G-7. Pertemuan tersebut dikabarkan berlangsung pada 13.30 waktu Eropa (Central European Time).
Amerika Serikat mendukung gagasan pelepasan cadangan minyak secara bersama-sama. “Setiap tindakan akan dikoordinasikan dengan Badan Energi Internasional (EIA),” dikutip dari Bloomberg, Senin (9/3).
Kendati demikian, hingga saat ini belum ada keputusan yang diambil dari kelompok tersebut.
Berdasarkan catatan Bloomberg, pelepasan cadangan strategis hanya dilakukan lima kali sebelumnya. Dua di antaranya terjadi saat perang Rusia Ukraina pada 2022. Sebelum itu, cadangan diambil untuk mengatasi gangguan pasokan di Libya setelah Badai Katrina, dan diambil pada perang teluk pertama.
Beberapa pejabat AS percaya pelepasan cadangan bersama sejumlah 300-400 juta barel atau 25% dari total cadangan dapat mengatasi lonjakan harga. Konsumen di seluruh dunia sudah merasakan dampak gangguan di Timur Tengah, dengan antrean panjang di stasiun bensin dan lonjakan harga bahan bakar jet yang mendorong kenaikan biaya tiket pesawat.
Banyak kilang minyak di Asia yang bergantung pada minyak Timur Tengah terpaksa mengurangi tingkat operasional karena kesulitan mencari alternatif pasokan dari Teluk Persia.
Harga minyak mentah Brent melonjak hampir US$ 120 per barel pada Senin (9/3). Angka ini naik tajam dibandingkan harga sebelum perang yang hanya berkisar US$ 72 per barel.
Peningkatan ini terjadi karena penutupan akses Selat Hormuz oleh Iran. Jalur vital yang menghubungkan negara produsen minyak di Teluk Persia dan pasar global ini.
Beberapa perusahaan pengeboran besar, termasuk Uni Emirat Arab dan Irak, telah terpaksa mengurangi produksi karena kekurangan ruang penyimpanan, sementara Arab Saudi berusaha mengalihkan muatan ke Laut Merah.
Berita tentang kemungkinan pengurangan pasokan membantu meredam sebagian kenaikan harga tersebut.
Sumber Bloomberg lainnya menyebut beberapa negara Eropa khawatir Amerika Serikat (AS) akan mendesak pelonggaran sanksi pada minyak Rusia setelah perang dengan Ukraina.
AS sebelumnya telah memberikan keleluasaan bagi India mengimpor minyak Rusia yang sudah berada di laut. Tindakan ini memberikan sinyal banyak sanksi yang dapat dicabut.
“Amerika Serikat belum secara jelas menyampaikan niatnya kepada sekutu Eropa dalam beberapa hari terakhir,” tambah mereka.
