Harga Bensin di AS Melonjak 30% Akibat Perang di Iran

Kamila Meilina
25 Maret 2026, 14:43
Harga bensin di Amerika melonjak, harga bensin di AS,
Instagram @prettypuri17
SPBU di Amerika Serikat pada Maret 2026
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga bensin di Amerika Serikat melonjak lebih dari 30% sepanjang bulan ini dan mendekati US$ 4 atau Rp 67.660 (kurs Rp 16.920 per US$) per galon di tengah gangguan pasokan minyak akibat perang di Iran. Peningkatan tersebut terjadi meskipun Presiden AS Donald Trump berupaya menekan harga energi dan mengendalikan gangguan pasokan.

Berdasarkan data Gasbuddy, rata-rata harga bensin nasional di Amerika Serikat pada Senin (23/3) mencapai US$ 3,92 atau Rp 66,2l3 ribu per galon. Satu galon setara dengan 3,785 liter, sehingga harga per liter sekitar US$ 1,03 atau Rp 17,4 ribu. 

Harganya naik sekitar 90 sen per galon atau lebih dari 30% sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.

Kenaikan harga juga terjadi pada bahan bakar solar atau solar, yang kini mencapai sekitar US$ 5,22 atau Rp 88,3 ribu per galon. Kenaikan harga bahan bakar ini dipicu oleh kekhawatiran pasokan minyak global, terutama karena gangguan pengiriman minyak di Selat Hormuz. 

Harga tenaga surya di Amerika Serikat telah melonjak sekitar 40% menjadi US$ 5,29 atau Rp 89,5 ribu per galon, level tertinggi sejak tahun 2022. Kenaikan ini terjadi setelah perang Iran memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, sebagaimana dilansir dari CNBC Internasional, Senin (23/3). 

Meski harga solar naik tajam, pemerintah AS menegaskan tidak akan membatasi ekspor solar. Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan, tindakan ekspor justru dapat berdampak negatif bagi industri energi Amerika Serikat.

Ia menjelaskan bahwa Amerika Serikat memproduksi dan mengolah minyak lebih banyak daripada kebutuhan domestik. 

“Jika ekspor dihentikan, kilang minyak di AS harus mengurangi produksi, yang justru dapat menurunkan produksi minyak dan produk olahan secara keseluruhan,” kata dia 

AS Lepas Cadangan Minyak

Untuk mengatasi gangguan pasokan akibat perang, Amerika Serikat akan menghabiskan sekitar 1 juta hingga 1,5 juta barel minyak per hari dari cadangan minyak strategis atau Strategic Petroleum Reserve. Total penyelamatan darurat dapat mencapai hampir tiga juta barel per hari.

Minyak dari cadangan strategis AS mulai dialirkan ke pasar sejak Jumat (20/3). Selain Amerika Serikat, beberapa negara seperti Jepang juga telah bergerak untuk menambah pasokan minyak ke pasar global.

Lebih dari 30 negara anggota Badan Energi Internasional juga sepakat untuk menambah pasokan minyak ke pasar global sebesar 400 juta barel. Dari jumlah tersebut, Amerika Serikat akan menyumbangkan sekitar 172 juta barel dari strategi cadangannya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...