Indonesia akan Impor LPG Rusia, Pasokan dari AS Tak Berkurang
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia akan mengimpor liquified petroleum gas (LPG) dari Rusia. Rencana ini masih dalam proses finalisasi.
Impor LPG Rusia ini dilakukan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat setiap tahun. Jumlah produksi LPG domestik hanya mencapai 1,6 juta ton sementara total kebutuhan sebanyak 10 juta ton.
Pada 2026-2027 total konsumsi LPG mencapai 8,6 juta per tahun serta 1,5 juta ton untuk kebutuhan Lotte Chemical Indonesia (LCI).
“LPG Rusia dalam tahap finalisasi, kita doakan bisa cepat selesai karena semua dunia membutuhkan,” kata Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (17/4).
Sebagian stok LPG Indonesia sebelumnya dipasok dari Timur Tengah, namun kawasan tersebut sedang terjadi perang dan kerusakan fasilitas energi yang mengakibatkan terhambatnya pasokan energi global. Dia menyebut impor Rusia sebagai upaya pemerintah mencari pasar baru.
“Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan melakukan konsolidasi mencari alternatif terbaik. Posisi (stok) LPG kita di atas standar minimum nasional,” ujarnya.
Impor dari AS Tak Berkurang
Meski mulai mengimpor LPG dari Rusia, Bahlil menyebut porsi impor dari negara lain termasuk Amerika Serikat (AS) tidak berkurang. Hal ini menimbang porsi kebutuhan konsumsi LPG yang terus bertambah.
Tak hanya LPG, Bahlil turut menjelaskan bahwa Indonesia juga mengimpor minyak mentah (crude) dari Rusia. Kendati demikian, Ketua Umum Partai Golkar ini menyebut tak ada rencana Indonesia untuk mengimpor BBM dari sana
“Kebutuhan impor BBM kita berasal dari kawasan Asia Tenggara. Jadi tidak ada impor BBM baik itu dari Timur Tengah, Afrika, Amerika, atau negara lainnya,” ucapnya.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah melangsungkan kunjungan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow, pada Senin (13/4). Pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih lima jam itu menyepakati sejumlah kemitraan jangka panjang di sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM).
Sekretaris Kabinet (Seskab), Letnan Kolonel TNI Teddy Indra Wijaya, menyampaikan pertemuan kedua pimpinan negara di Istana Kremlin saat itu menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi Indonesia-Rusia di tengah dinamika global yang terus berkembang.
“Disepakati beberapa poin, antara lain kerja sama di sektor ESDM jangka panjang, termasuk ketahanan energi migas dan hilirisasi,” kata Teddy dalam siaran pers yang dirilis oleh Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden pada Senin (13/4).
