Iran Serang Fasilitas Minyak UEA, Harga Minyak Dunia Turun Tipis

Mela Syaharani
5 Mei 2026, 10:02
harga minyak, Selat Hormuz, minyak mentah
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Harga minyak dunia turun tipis setelah drone dan misil Iran menyerang fasilitas produksi minyak Uni Emirat Arab (UEA) di Fujairah.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak dunia turun tipis setelah drone dan misil Iran menyerang fasilitas produksi minyak Uni Emirat Arab (UEA) di Fujairah. Militer Amerika Serikat (AS) dan Iran juga saling serang di Selat Hormuz.

Harga minyak Brent turun 0,6% menjadi US$ 113,74 per barel, sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,5% menjadi US$ 104,85 per barel.

“Militer AS telah menangkis serangan Iran saat mengawal dua kapal berbendera AS melewati jalur perairan tersebut,” kata Komando Pusat AS dikutip dari Bloomberg, Selasa (5/5).

Gelombang baru perang ini terjadi ketika AS berupaya membuka jalur di Hormuz bagi kapal-kapal yang terjebak. Aksi ini menimbulkan keraguan terhadap gencatan senjata yang ditetapkan selama empat minggu antara Washington dan Teheran. Presiden AS Donald Trump mengatakan perang tersebut mungkin berlangsung dua hingga tiga minggu lagi.

Menurut laporan CBS, kapal perusak AS USS Truxtun dan USS Mason melintasi selat tersebut. Kapal itu diperkuat dengan helikopter Apache dan pesawat lainnya untuk menghadapi serangan ancaman terkoordinasi selama perjalanan.

“Serangan-serangan tersebut seluruhnya menunjukkan gencatan senjata mulai retak. Harga minyak bisa melonjak jauh lebih tinggi jika perang kembali berlanjut, terutama apabila lebih banyak infrastruktur minyak mengalami kerusakan,” kata Analis energi senior di MST Marquee Saul Kavonic.

Harga minyak Brent telah melonjak hampir 90% pada 2026 karena perang ini telah mengurangi pasokan jutaan barel minyak dari pasar, dengan Selat Hormuz dan sumur-sumur minyak di kawasan tersebut ditutup. 

Rute vital komoditas energi itu menghadapi blokade ganda, baik dari AS maupun Iran. Pemerintah Teheran berupaya mencegah kapal melintas, sementara Washington menghentikan kapal yang menuju atau berasal dari Republik Islam tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan dengan Washington mengalami kemajuan, namun AS dan Uni Emirat Arab harus waspada agar tidak kembali terseret ke dalam konflik berkepanjangan. 

“Dampaknya bagi pasar adalah semakin jelas bahwa selama tidak ada kesepakatan antara AS dan Iran, selat tersebut kemungkinan akan tetap tertutup. Ini berarti tekanan kenaikan harga minyak akan terus berlanjut,” kata Analis geopolitik di Eurasia Group, Gregory Brew.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...