Malaysia Terapkan Biodiesel B15 Mulai Juni 2026 untuk Tekan Harga BBM

Kamila Meilina
8 Mei 2026, 10:02
Pekerja menunjukkan buah kelapa sawit usai dipanen di kawasan PT Perkebunan Nusantara IV, Deli Serdang, Sumatera Utara, Kamis (24/10/2024). Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan ketersediaan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih
ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/tom.
Pekerja menunjukkan buah kelapa sawit usai dipanen di kawasan PT Perkebunan Nusantara IV, Deli Serdang, Sumatera Utara, Kamis (24/10/2024). Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan ketersediaan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih sangat mencukupi untuk bahan baku biodiesel 50 persen (B50) dengan tingkat produksi CPO di Indonesia pada tahun 2024 sekitar 46 juta ton, sedangkan yang dibutuhkan untuk pembuatan B50 hanya 5,3 juta ton.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah Malaysia akan mulai menerapkan biodiesel B15 secara bertahap mulai 1 Juni 2026 sebagai upaya menekan harga diesel nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi negara tersebut.

Kebijakan ini akan dijalankan melalui 19 pabrik berlisensi yang ditunjuk untuk memproduksi biodiesel berbasis minyak sawit. Pemerintah Malaysia juga menargetkan peningkatan campuran biodiesel secara bertahap dari B15 menuju B20, bahkan hingga B50 dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Direktur Eksekutif ESG Malaysia, Harald Sippel, mengatakan kapasitas produksi biodiesel Malaysia sebenarnya tidak menjadi kendala dalam implementasi program tersebut.

“Sebanyak 19 pabrik itu mampu memproduksi sekitar 23 juta hingga 24 juta ton. Namun karena selama ini Malaysia masih menerapkan standar B10, kapasitas tersebut belum dimanfaatkan secara optimal,” ujar Sippel kepada Business Times, dikutip dari NST, Selasa (5/5).

Pemerintah Malaysia memperkirakan implementasi B15 membutuhkan sekitar 800.000 ton crude palm oil (CPO) atau tambahan sekitar 400.000 ton dibanding kebutuhan pada program B10 saat ini.

Meski demikian, Sippel menilai tantangan utama implementasi program tersebut berada pada kesiapan infrastruktur pencampuran biodiesel di depot distribusi. Ia menilai hasil inspeksi menunjukkan lebih dari 70% depot bisa melakukan pencampuran dengan fasilitas yang ada saat ini. 

“Namun bagaimana dengan sisanya? Sekitar 30 persen itulah yang masih membutuhkan perhatian. Jika dilakukan dengan baik, transisi ini sebenarnya sangat bisa dikelola,” dia menambahkan.

Implementasi B15 mencerminkan perubahan struktural dalam strategi ketahanan energi dan ketahanan ekonomi Malaysia. Langkah ini sebagai solusi harga minyak Malaysia yang melonjak tajam sejak beberapa bulan terakhir. Pemerintah melihat peningkatan campuran biodiesel sebagai strategi pertahanan ekonomi nasional yang penting.

Peningkatan campuran biodiesel dari B10 menuju B15 atau bahkan B20 diperkirakan dapat menghemat subsidi bahan bakar Malaysia hingga sekitar RM1,5 miliar atau Rp 6,6 triliun (kurs Rp4.428 per RM) per tahun.

Bagi pelaku usaha, khususnya sektor logistik dan transportasi, harga bahan bakar domestik yang lebih stabil dan sebagian berbasis minyak sawit lokal dinilai lebih aman dibanding ketergantungan penuh terhadap gejolak harga minyak global.

Selain itu, Malaysia juga disebut tengah mempertimbangkan implementasi biodiesel B50 dalam beberapa tahun mendatang sebagai bagian dari penguatan narasi keberlanjutan atau environmental, social, and governance (ESG).

Ia menilai negara yang mampu menggunakan minyak sawitnya sendiri secara bertanggung jawab dalam skala besar akan lebih kredibel sebagai mitra ekspor dibanding negara yang hanya mengekspor komoditas mentah.

Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi sebelumnya menyampaikan bahwa implementasi biodiesel dilakukan secara bertahap agar harga minyak sawit mentah tidak memberikan tekanan terhadap biaya produksi biodiesel.

“Pendekatan bertahap ini dimaksudkan untuk memastikan harga crude palm oil (CPO) tidak memberikan tekanan terhadap biaya produksi biodiesel,” ujar Ahmad Zahid.

Ia menambahkan, biodiesel berbasis sawit juga diharapkan dapat menjadi katalis baru bagi ekonomi pedesaan selain mendukung agenda energi nasional Malaysia.



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...