Harga Minyak Turun Usai Trump Tunda Serangan ke Iran
Harga minyak acuan dunia turun setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan serangan terhadap Iran. Penundaan serangan ini dilakukan karena ada permintaan dari sekutu-sekutunya di Teluk Persia dan Iran menyampaikan proposal perdamaian.
Harga Brent turun 2,4% menjadi US$ 109,37 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate turun 1,8% menjadi US$ 102,51 per barel.
Trump mengatakan dalam unggahan media sosial bahwa para pemimpin Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab meminta agar AS menunda serangan Militer AS yang direncanakan terhadap Republik Islam Iran. Iran juga sudah mengirimkan proposal perdamaian.
Harga minyak telah reli di tengah ketidakpastian mengenai pembicaraan tersebut, serta potensi Selat Hormuz kembali dibuka secara penuh. “Keputusan presiden untuk membatalkan serangan terjadwal besok adalah hal positif. Perubahan rencana ini menunjukkan betapa tidak pastinya situasi negosiasi tersebut,” kata Kepala investasi di Muriel Siebert & Co. Mark Malek, dikutip dari Bloomberg, Selasa (19/5).
Blokade angkatan laut AS telah membuat terminal minyak Pulau Kharg milik Iran tidak beroperasi setidaknya selama 10 hari. Kondisi ini memangkas pendapatan minyak Teheran dan menarik jutaan barel dari pasar.
Hal itu menjadi titik balik bagi Republik Islam tersebut. Iran sebelumnya menjadi pengekspor minyak mentah yang dominan di Selat Hormuz usai melarang kapal negara lain melintas pada minggu-minggu awal perang.
Harga minyak sempat terpangkas kenaikannya setelah kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan Washington mengusulkan pengecualian sementara terhadap sanksi minyak hingga kesepakatan final tercapai. Seorang pejabat AS mengatakan laporan itu salah, tetapi tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Sementara itu, AS mengeluarkan pengecualian baru yang mengizinkan penjualan minyak mentah dan produk petroleum Rusia yang sudah dimuat di kapal tanker, beberapa hari setelah pengecualian sebelumnya berakhir.
