Harga Minyak Turun Lagi di Tengah Proses Perundingan AS-Iran
Harga minyak acuan dunia kembali turun di tengah proses perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait dengan perang di Timur Tengah.
Minyak Brent turun 0,3% menjadi US$ 76,08 per barel pada pukul 08.21 waktu Singapura. Harga Brent sebelumnya telah turun 2% pada Kamis (9/7). Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate turun 0,3% menjadi US$ 71,87 per barel.
Pergerakan harga minyak dalam sepekan cenderung bergejolak. Hal ini disebabkan karena memanasnya konflik di kawasan tersebut yang menyebabkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun tajam.
Menurut seorang pejabat AS, perundingan teknis antara kedua pihak masih terus berlangsung. Washington tetap berkomitmen untuk mencari solusi. Sementara itu, status gencatan senjata yang sebelumnya disetujui keduanya masih belum jelas, setelah Presiden Donald Trump menyatakan kesepakatan tersebut telah berakhir.
Memanasnya kondisi Timur Tengah diawali dengan terjadinya serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Hal ini membuat pasukan AS melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran selama dua hari pada pekan ini. Teheran kemudian membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz tampak hampir terhenti hingga kemarin. Meski demikian, sejumlah kapal tanker yang berhasil keluar dari kawasan tersebut dalam beberapa pekan terakhir membuat antrean kapal yang sebelumnya terjebak di dalam Teluk Persia kini sebagian besar telah terurai.
Kedua pihak sejauh ini masih menghindari pecahnya perang terbuka secara penuh, dan sejumlah ketentuan dalam kesepakatan sementara masih tetap dijalankan.
Walaupun kondisi Timur Tengah kembali memanas, Bloomberg mencatat harga minyak masih mengalami kenaikan secara mingguan. Pelaku pasar kini mencermati produksi dan penjualan minyak dari negara-negara produsen di Teluk Persia. Termasuk eksportir terbesar Arab Saudi, yang dalam waktu dekat dijadwalkan mengumumkan alokasi pasokan minyak mentah bulanan kepada para pelanggannya.
"Pasar tampaknya memandang ketegangan terbaru antara AS dan Iran sebagai tantangan terhadap proses gencatan senjata, bukan sebagai kegagalan total dari kesepakatan tersebut," kata Kepala Strategi Komoditas ING Groep NV di Singapura, Warren Patterson dikutip dari Bloomberg, Jumat (10/7).
Dia menyebut, perundingan lanjutan antara kedua negara membantu pasar yakin bahwa jalur diplomasi tetap menjadi pilihan utama.
Komando Pusat Amerika Serikat atau US Central Command menyatakan bahwa Iran tidak menguasai Selat Hormuz. Sejak Mei, pasukan AS telah membantu lebih dari 800 kapal melintasi jalur pelayaran tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang menghubungkan negara-negara produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar global. Status penguasaan atas jalur ini menjadi salah satu isu utama dalam konflik AS-Iran, di mana Teheran berupaya memperbesar kendalinya terhadap lalu lintas kapal.
"Meskipun lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz menurun dalam beberapa hari terakhir, volumenya masih lebih tinggi dibandingkan sebelum nota kesepahaman berlaku. Hal ini memberikan sedikit ketenangan bagi pasar," ujar Patterson.
