Blok Masela Masuk Tahap Konstruksi, Pemerintah Targetkan 60% Gas untuk Domestik

Kamila Meilina
16 Juli 2026, 17:40
Blok Masela, LNG, industri domestik
Biro Pers Media Sekretaris Presiden
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan 60% hasil gas Blok Masela akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Proyek Gas Abadi Blok Masela resmi memasuki tahap konstruksi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan 60% hasil gas diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Proyek Abadi Blok Masela diproyeksikan memiliki kapasitas produksi sekitar 9,5 juta ton liquefied natural gas (LNG) per tahun dan sekitar 35.000 barel kondensat per hari.

Fokus pemerintah saat ini memastikan produksi gas tersebut lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik dibandingkan ekspor.

"Saya pikir nanti gasnya, 60% minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40% maksimal untuk kita melakukan ekspor," ujarnya dalam peresmian Groundbreaking Blok Masela di Lermatang, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7). 

Gas itu akan dimanfaatkan untuk mendukung program hilirisasi nasional, termasuk memasok kebutuhan industri pupuk, pembangkit listrik PLN, jaringan gas PGN, serta sejumlah industri nasional lainnya guna menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Setelah groundbreaking, pekerjaan konstruksi langsung dimulai. Tahap awal mencakup pengeboran sumur pengembangan beserta empat sumur lanjutan, serta pembangunan berbagai fasilitas pendukung seperti pelabuhan, dermaga, hingga rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement and construction/EPC).

Proses groundbreaking ini disebutnya menjadi tonggak baru setelah proyek tersebut tertunda selama 28 tahun sejak Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract/PSC) ditandatangani pada 1998.

"Pada hari ini, tepat tanggal 16 Juli 2026, kita menandai babak baru Proyek Abadi Masela yang sudah dicanangkan 28 tahun lalu," ujar Bahlil. .

Menurutnya, selama bertahun-tahun proyek tersebut terhambat oleh berbagai perdebatan, termasuk mengenai konsep pengembangan kilang di laut (offshore) atau di darat (onshore). 

Lapangan Abadi di Blok Masela, Laut Arafura, Provinsi Maluku yang berlokasi sekitar 12 mil dari pulau terdekat. Blok Masela berlokasi sekitar 750 km Selatan Ambon, Ibu kota provinsi Maluku.

Kedalaman air di Lapangan Abadi berkisar diantara 400 m hingga 800 m. Sisi Selatan Blok Masela beririsan dengan perbatasan wilayah laut Indonesia – Australia dengan letak Blok seluruhnya berada di wilayah Indonesia.

Rencana pengembangan Lapangan Abadi, akan meliputi Fasilitas bawah laut atau subsea (termasuk subsea wellheads, drilling centers, Subsea Umbilicals Risers and Flowlines (SURF), CO2 injection well, dan SURF untuk fasilitas CCS), fasilitas Floating Production Storage and Offloading (FPSO), Gas Export Pipeline (GEP) dan CO2 pipeline, dan Onshore LNG (OLNG) plant termasuk Onshore CCS facility yang berlokasi di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT).

Bakal Serap 12.000 Tenaga Kerja

Selain memperkuat ketahanan energi, pemerintah juga memperkirakan proyek ini akan memberikan dampak ekonomi yang besar. Bahlil menyebut Proyek Abadi Blok Masela diproyeksikan menghasilkan penerimaan negara langsung sekitar US$ 37,8 miliar (Rp 679,64 triliun), ditambah kontribusi pajak tidak langsung sekitar US$ 6,43 miliar (Rp 115,6 triliun) selama masa konstruksi dan operasi.

Di sisi ketenagakerjaan, proyek ini diperkirakan menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja langsung selama masa konstruksi dan sekitar 800 hingga 1.000 pekerja saat memasuki tahap operasi.

Pemerintah juga meminta operator proyek memprioritaskan tenaga kerja asal Maluku, khususnya dari Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Kabupaten Maluku Barat Daya.

"Kalau tenaga kerja profesional masih tersedia di tier 1 dan tier 2, ambil dulu dari sini. Jangan sampai masyarakat daerah merasa investasi masuk tetapi mereka tidak diprioritaskan," kata Bahlil.

Ia menambahkan, sejumlah putra daerah telah disiapkan melalui pendidikan di Akademi Migas milik Kementerian ESDM dan akan diprioritaskan untuk bekerja di proyek tersebut.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...