Harga Minyak Turun Tipis di Tengah Perundingan Soal Selat Hormuz

Mela Syaharani
27 Agustus 2026, 09:08
minyak, harga minyak, selat hormuz
REUTERS
Kapal-kapal tampak berada di Selat Hormuz, sepert terlihat dari Musandam, Oman, 1 Juni 2026.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak acuan dunia turun tipis di tengah proses perundingan terkait pengelolaan Selat Hormuz dan meningkatnya ketegangan antara Rusia dan Ukraina.

Harga minyak Brent turun 0,7% menjadi US$ 87,22 per barel pada pukul 08.25 waktu Singapura. Sementara itu harga West Texas Intermediate (WTI) turun 0,8% menjadi US$ 81,61 per barel.

Kontrak berjangka minyak dunia sempat naik kemarin setelah munculnya laporan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin berencana meningkatkan eskalasi perang di Ukraina.

Kendati demikian, kenaikan ini teredam usai militer Iran mengatakan telah mencapai kesepakatan pembagian pendapatan dengan Oman terkait Selat Hormuz.

Harga minyak melemah sepanjang pekan ini karena adanya indikasi kesepakatan antara Oman dan Iran terkait Selat Hormuz dapat tercapai. Pelemahan juga terjadi setelah langkah-langkah ekonomi Amerika Serikat terhadap Teheran dan mitra dagangnya ternyata tidak sekeras yang diperkirakan. 

Meski demikian, harga minyak masih naik lebih dari 40% sepanjang tahun ini setelah konflik selama enam bulan menghambat aliran energi dari kawasan Teluk Persia.

“Pasar mulai memperhitungkan kemungkinan munculnya gencatan senjata lain, tetapi kini berada dalam posisi menunggu konfirmasi apakah kesepakatan antara Oman dan Iran dapat tercapai,” kata analis energi senior di MST Marquee, Saul Kavonic dikutip dari Bloomberg, Kamis (27/8). 

Kesepakatan tersebut dipandang sebagai langkah awal menuju kesepakatan antara Teheran dan Washington. Dia menyebut sudah ada banyak upaya gencatan senjata yang gagal sebelumnya, sehingga pasar enggan bergerak terlalu dini.

Teheran berulang kali mengatakan kesepakatan mengenai navigasi tidak berarti Selat Hormuz akan segera dibuka kembali. Meski demikian, minyak mentah tampaknya mulai mengalir dari kawasan Teluk Persia. 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim 10 juta barel minyak telah keluar melalui Hormuz pada Selasa lalu. Hal ini meningkatkan harapan pengiriman minyak melalui jalur perairan penting tersebut mulai meningkat.

Citra satelit menunjukkan Arab Saudi tampaknya meningkatkan aktivitas pemuatan minyak di dalam kawasan Teluk Persia. Hal ini menjadi tanda eksportir minyak mentah terbesar di dunia tersebut sedang mengalihkan rute pengiriman di tengah ancaman kelompok militan Houthi dari Yaman terhadap ekspor minyaknya melalui Laut Merah.

Namun, eskalasi konflik Rusia-Ukraina dapat mengancam pasokan energi global. Serangan terbaru Kyiv terhadap kilang dan pelabuhan telah memperketat pasar bahan bakar Rusia serta menghambat Moskow mengalihkan minyak mentahnya untuk diekspor. Kondisi tersebut semakin memperburuk gangguan pasokan akibat perang Iran.

“Serangan yang sering terjadi terhadap infrastruktur minyak dan pengolahan Rusia mulai memangkas pasokan minyak Rusia hingga 10%, dengan dampak yang bahkan lebih besar terhadap produk olahan minyak,” kata Kavonic.

Tanda-tanda pengetatan pasokan bahan bakar juga terlihat di AS. Menurut Energy Information Administration (EIA), persediaan diesel di negara tersebut telah turun ke level musiman terendah sepanjang sejarah. Kondisi di Eropa bahkan sangat ketat sehingga kawasan tersebut untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun mendatangkan diesel dari Meksiko.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...