PLN Siapkan Listrik dari Sampah untuk 55 Ribu Rumah Tangga Bekasi
PT PLN (Persero) menyiapkan pasokan listrik dari fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut.
PLN mengatakan PSEL Kota Bekasi memiliki kapasitas netto 27,4 megawatt (MW). Fasilitas yang diproyeksikan ini menghasilkan sekitar 223.584 megawatt hour (MWh) listrik per tahun.
Dengan asumsi konsumsi rata-rata pelanggan rumah tangga berdaya 450 volt ampere (VA), jumlah tersebut setara dengan kebutuhan listrik sekitar 55 ribu rumah tangga.
“Permintaan listrik di Bekasi cukup tinggi. Maka, kami mendedikasikan listrik dari PSEL Bekasi ini untuk masyarakat Bekasi. Jadi, sampah Kota Bekasi masuk ke sini (PSEL), kemudian listrik yang dihasilkan kami pasok kembali ke Kota Bekasi,” ujar Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo dalam siaran pers, Jumat (28/8).
Dia mengatakan skema tersebut membuat sampah yang ditangani melalui PSEL tidak hanya mengurangi permasalahan lingkungan, tetapi juga menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan kembali masyarakat setempat.
“Jadi, produk utamanya bukan listrik, tapi produk utamanya adalah lingkungan yang bersih. Listrik hanyalah produk sampingan dari program ini,” ujar Darmawan.
Rencana penyerapan listrik PSEL Bekasi oleh PLN ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) atau Power Purchase Agreement (PPA) dengan pengelola fasilitas.
Berdasarkan keterangan pers Danantara Indonesia pada 26 Agustus, perjanjian itu menjadi landasan komersial untuk penyerapan listrik yang dihasilkan PSEL Kota Bekasi ke jaringan PLN. PJBL ini juga memberikan kepastian offtake dan penghentian operasional proyek dalam jangka panjang.
PSEL Kota Bekasi dibangun di Ciketing Udik, Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. Berdasarkan keterangan pers Danantara, fasilitas ini akan mengelola hingga 1.500 ton sampah per hari menjadi energi bersih berupa listrik. Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2028.
Sementara berdasarkan informasi PLN yang disampaikan Darmawan, fasilitas PSEL Kota Bekasi memiliki kapasitas netto 27,4 MW dan produksi listrik sekitar 223.584 MWh per tahun.
Proyek PSEL Kota Bekasi dibangun dengan nilai investasi Rp3 triliun. Berdasarkan keterangan pers Danantara, fasilitas ini merupakan proyek kedua yang mulai dibangun setelah PSEL Denpasar Raya pada Juli 2026.
Danantara menjalankan proyek tersebut melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera).
Fasilitas PSEL Bekasi akan mengelola lebih dari 500 ribu sampah per tahun. Dari jumlah ini, sekitar 70% ditargetkan berhasil diolah. Proyek ini juga mengurangi kebutuhan lahan tempat penyimpanan akhir hingga sekitar 90%.
Dari sisi lingkungan, PSEL Kota Bekasi diproyeksikan mampu menurunkan emisi sampah dari tempat penyimpanan akhir hingga 80% serta mengurangi emisi karbon sebesar 640.000 ton setara CO2 per tahun.
Dari sisi energi, inisiatif tersebut akan menghasilkan energi hijau yang dapat menyuplai kebutuhan listrik sekitar 55.000 rumah masyarakat Kota Bekasi.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan PSEL Kota Bekasi diharapkan menciptakan nilai lingkungan, energi, dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Peresmian Pembangunan PSEL hari ini menandai hadirnya solusi nyata untuk menjawab tantangan darurat sampah di Indonesia dan secara khusus di Kota Bekasi. PSEL Kota Bekasi juga diharapkan dapat menciptakan nilai lingkungan, energi, dan ekonomi bagi sekitar masyarakat,” ujar Pandu, dikutip dari keterangan pers.
Menurut Pandu, inisiatif itu diharapkan menghasilkan hampir 1.000 lapangan kerja hijau dan menyediakan energi bersih bagi puluhan ribu rumah tangga.
“Selain itu, langkah ini membuktikan bahwa sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Danantara Indonesia, dan berbagai pemangku kepentingan dapat menghadirkan solusi nyata bagi pengelolaan sampah terintegrasi di Indonesia,” kata Pandu.
Kota Bekasi dinilai membutuhkan alternatif pengelolaan sampah yang berkelanjutan, karena tempat penyimpanan akhir di wilayah ini telah melebihi kapasitas.
Danantara menyebut Kota Bekasi juga memiliki kesiapan lahan dan komitmen volume pasokan sampah yang memadai bagi fasilitas PSEL.
PSEL Kota Bekasi akan menggunakan teknologi moving grate incinerator yang dilengkapi Air Pollution Control System (APCS). Teknologi ini disesuaikan dengan karakteristik sampah Indonesia dan dirancang mengacu pada standar emisi European Union Industrial Emissions Directive (EU IED).
Dengan proyek tersebut, sampah Kota Bekasi akan diolah menjadi energi listrik. Listrik yang dihasilkan kemudian diserap ke jaringan PLN dan dipasok kembali untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Bekasi.
