Bahlil Pastikan Tak Ada Kenaikan Harga Pertalite Meski Kuota Subsidi Jebol
Pemerintah masih menghitung potensi kelebihan kuota atau overkuota penyaluran bahan bakar minyak (BBM) Pertalite pada tahun ini. Namun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi tersebut tak akan naik meski kuotanya jebol.
“Kami sedang menghitung potensi overkuotanya berapa. Memang kan saat terjadi kenaikan harga BBM, sebagian pengguna BBM non-subsidi (RON 92) jadi mengisi BBM subsidi,” kata Bahlil saat ditemui di Kompleks DPR RI, Senin (31/8).
Di sisi lain, menurut Bahlil, harga BBM nonsubsidi tetap mengikuti mekanisme pasar. “Jika ada dinamika maka harganya kami sesuaikan,” ujarnya.
Dalam rapat dengan DPR, Bahlil juga membahas rencana pembatasan pembelian Pertalite bagi masyarakat yang masuk desil 9 dan 10. Pemeritah saat ini masih mengkaji rencana tersebut untuk untuk memastikan penyaluran subsidi BBM lebih tepat sasaran.
“Salah satu cara agar tepat sasaran itu data yang digunakan harus valid. Saat ini desilnya sedang kami cek terus,” ujarnya.
Prediksi Kuota Jebol
PT Pertamina (Persero) sebelumnya memprediksi penyaluran BBM bersubsidi, yakni Solar dan Pertalite, akan melampaui kuota yang ditetapkan tahun ini.
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, kuota subsidi Pertalite ditetapkan sebesar 28,69 juta kiloliter (kl). Hingga 31 Juli 2026, realisasi penyaluran Pertalite telah mencapai 16,54 juta kl.
“Dengan tren konsumsi saat ini, prognosa kami hingga akhir tahun menunjukkan potensi penyaluran di atas kuota. Data yang kami miliki (prognosa realisasi penyaluran BBM) Solar di atas 9,4%, untuk Pertalite di atas kuota 1,7%,” kata Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8).
Oki mengatakan terdapat sejumlah faktor yang mendorong potensi jebolnya kuota BBM subsidi.
Pertama, pertumbuhan ekonomi nasional pada semester I 2026 yang mencapai sekitar 5-5,6%. Pertumbuhan tersebut turut mendorong aktivitas sektor industri dan logistik.
Kedua, peningkatan kegiatan ekspor-impor, pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi, kenaikan pariwisata domestik, serta dimulainya musim panen dan musim melaut pada semester II 2026.
“Kami juga mencatat kebutuhan tambahan dari sektor transportasi publik,” ujarnya.
