Pengeboran Panas Bumi 2.200 Meter, ESDM Pastikan Tak Ganggu Candi Gedong Songo
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan kegiatan pengeboran sumber energi panas bumi (geothermal) di Semarang tidak tumpang tindih dengan Cagar Budaya Candi Gedong Songo yang letaknya berdekatan. Area geothermal yang dimaksud adalah WKP Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang.
Candi Gedong Songo merupakan candi Hindu yang berada di lereng Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Candi ini berada di ketinggian sekitar 1.200 mdpl di lereng selatan dusun Darum, Desa Candi, Bandungan.
“Tidak, lokasinya sudah dipastikan (tidak mengganggu). Wilayah Kerja Panas Bumi dari dulu sudah kami pastikan tidak ada area yang dilindungi atau menjadi heritage, sudah tidak ada sama sekali,” kata Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konversi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi saat ditemui di Kompleks DPR RI, Senin (31/8).
Candi Gedong Songo dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno saat Dinasti Sanjaya pada abad ke-8 Masehi, ketika agama Hindu berkembang pesat di Pulau Jawa. Candi ini sempat ditinggalkan, sebelum akhirnya ditemukan kembali pada 1740 oleh Loten.
Pengembangan WKP Gunung Ungaran dimulai setelah terbitnya Keputusan Menteri ESDM Nomor 134.TK/EK.04/MEMBPE/2026. Lewat putusan itu, Kementerian ESDM mendelegasikan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) pada PT PLN Persero.
PLN sebelumnya telah menerima Surat Keputusan Izin Panas Bumi (SK IPB) untuk WKP Gunung Ungaran dalam acara International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta, Rabu (19/8).
Dalam WKP tersebut rencananya akan dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran, yang diproyeksikan berkapasitas 55 Megawatt (MW).
“Tidak ada tumpang tindih, sudah dipastikan sebelum menugaskan ke PLN. Nanti kami terbitkan (rincian) lokasinya, saat ini sedang dikomunikasikan oleh Ibu Juru Bicara Kementerian ESDM,” ujarnya.
Harus Dibor hingga 2.200 Meter
Kepala Bidang EBT Dinas ESDM Jateng Dwi Suryono, mengatakan luasan lahan WKP Gunung Ungaran mencapai 29.800 hektare (ha) yang diperkirakan menyumbang 4-5% total bauran EBT di Jateng.
Untuk bisa memanfaatkan sumber panas bumi di WKP tersebut, diperkirakan memerlukan pengeboran hingga kedalaman 1.900-2.200 meter. Dia menyebut pengeboran tidak dilakukan di sembarang tempat, tetapi berdasar potensi panas bumi dari hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya.
Jika ditemukan panas bumi sesuai perkiraan dan tahapan izin lancar, pembangkit panas bumi dengan nilai investasi US$ 300 juta ini akan beroperasi pada 2031.
"Untuk membuktikan adanya potensi panas bumi, perlu dilakukan pengeboran. Namun, tentunya seluruh fase-fase perizinan harus terpenuhi. Jika sesuai lini waktu, maka pengeboran akan dilakukan pada akhir 2028, atau di awal 2029," kata Dwi dikutip dari Antara, Selasa (1/9).
Dia mengatakan jika didapatkan hasil panas bumi yang cukup, maka akan dibangun infrastruktur dan baru 2031 dilakukan commercial operation date atau COD untuk menghasilkan listrik, yang ditransmisikan ke sistem jaringan interkoneksi Jawa, Madura, dan Bali.
Ia juga memastikan rencana eksplorasi panas bumi di kawasan Gunung Ungaran, yang terletak Kabupaten Semarang dan perbatasan Kendal itu akan melalui proses ketat, mulai izin lingkungan, hingga public hearing yang melibatkan masyarakat setempat.
Meski sudah terbit Keputusan Menteri ESDM dia mengatakan proses pengembangannya masih panjang untuk mencapai tahapan pengeboran dan penambangan panas bumi.
Selain itu, pengembangan WKP ini juga harus melalui tahapan perizinan, seperti Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) dan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH). Proyek tersebut juga harus mengantongi izin lingkungan berupa Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau Amdal.
"Tentunya izin yang sudah dimiliki tidak serta-merta bisa langsung melakukan kegiatan. Ada pula forum dalam izin lingkungan, public hearing mengundang pihak terkait, seperti stakeholder, masyarakat, LSM," ujarnya.
Tidak saja di Gunung Ungaran, potensi EBT panas bumi di Jawa Tengah sebetulnya membentang dari Dieng, Baturraden, Guci, Umbul Telomoyo, dan Jenawi.
"Yang sudah beroperasi di Dieng 70 MW, on progress fase dua 55 MW. Di Jenawi belum ada kegiatan lagi, di Umbul Telomoyo sudah ada sosialisasi-sosialisasi, Baturraden masih off, di Guci juga masih off," kata dia.
