Harga Minyak Melonjak Imbas Penutupan Pipa Arab Saudi, Perparah Krisis Energi?

Mela Syaharani
14 September 2026, 08:36
BBM
Reuters
Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, dekat perbatasan dengan pemerintahan Musandam Oman, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Uni Emirat Arab, pada 11 Maret 2026.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak acuan dunia melonjak ke angka US$ 107 per barel setelah Arab Saudi menutup pipa minyak mentah utamanya pasca serangan. Penutupan ini memperparah krisis energi global sekaligus mengganggu jalur yang biasa digunakan untuk menghindari Selat Hormuz di tengah perang AS-Iran.

Harga minyak Brent naik 2,9% menjadi US$ 107,64 per barel pada pukul 07.56 pagi di Singapura. Sementara itu minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,5% menjadi US$ 102,56 per barel.

Jumat malam lalu, Arab Saudi menyatakan pihaknya telah menghentikan operasional pipa East-West sebagai langkah pencegahan setelah serangan yang terjadi sehari sebelumnya. Belum ada indikasi kapan operasional pipa akan kembali dilanjutkan.

"Semuanya bergantung pada seberapa lama penutupan ini berlangsung," kata analis senior pasar minyak di Sparta Commodities SA., June Goh, dikutip dari Bloomberg, Senin (14/9).

Menurutnya, jika penutupan singkat, dampaknya akan terbatas karena stok di Yanbu (ujung barat jalur pipa) masih bisa dimanfaatkan. Namun, penutupan berkepanjangan dapat memaksa terjadinya pemangkasan produksi.

Irak bergerak cepat untuk meredam dampak dari serangan terhadap jalur pipa vital Arab Saudi tersebut. Perdana Menteri Ali Al-Zaidi memerintahkan penyelidikan setelah menemukan serangan tersebut berasal dari wilayah yang berbatasan dengan Iran.

“Di Arab Saudi, kapasitas penyimpanan di Yanbu mampu menyokong ekspor selama lima hingga tujuh hari. Namun, lebih dari itu akan menimbulkan gangguan yang sangat besar," ujar kepala riset energi di DBS Bank Ltd., Suvro Sarkar.

Di lini diplomasi, rencana pertemuan Iran dengan beberapa negara Teluk Persia untuk membahas pembuatan jalur pelayaran sementara melalui Hormuz resmi ditunda. Sebelumnya, Bahrain menyatakan tidak akan hadir dengan alasan salah satunya akibat serangan pada pipa East-West, sementara Riyadh juga memiliki keraguan atas rencana tersebut.

Para pelaku pasar juga sedang menakar dampak regional dari pergerakan militer yang cepat oleh kelompok militan Houthi yang disokong Iran di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman. Pergerakan ini berpotensi memungkinkan kelompok tersebut memperluas kendali atas pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, titik penyempitan jalur laut (chokepoint) vital lainnya.

Harga minyak mentah telah melonjak lebih dari tiga perempat pada tahun ini. Kondisi tersebut terjadi seiring meluasnya konflik AS-Iran di kawasan Timur Tengah yang memangkas volume ekspor dan mengacaukan pasar pelayaran. Di saat yang bersamaan, terjadi peningkatan aktivitas pembelian oleh Cina baru-baru ini turut mendorong kenaikan harga. Seperti yang diketahui, Cina merupakan sebagai pengimpor minyak mentah terbesar di dunia.

Krisis di Timur Tengah telah memberikan kejutan inflasi bagi perekonomian global, ditandai dengan melonjaknya harga minyak mentah, gas alam, serta produk olahan minyak termasuk diesel. Setelah data AS menunjukkan laju kenaikan harga meningkat pada Agustus, Bank Sentral AS (Federal Reserve) diperkirakan secara luas akan menaikkan suku bunga minggu ini.

Di AS, Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan pekan lalu ia akan mengumumkan sanksi terhadap sebuah bank besar pada hari Senin, sebagai bagian dari upaya untuk memaksa Teheran menyerah. Pada saat yang sama, Angkatan Laut AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Republik Islam tersebut untuk menekan ekspor energynya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...