Harga Minyak Stabil di US$ 100, Pasar Nantikan Potensi Pertemuan Trump-Iran
Harga minyak dunia dalam kondisi stabil di angka US$ 100 per barel setelah merosot hampir 8% dalam empat sesi perdagangan sebelumnya. Hal ini terjadi seiring meredanya kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah dan upaya diplomatik untuk mengakhiri perang AS-Iran.
Harga Brent stabil di US$ 100,37 per barel. Sementara itu West Texas Intermediate (WTI) WTI berada di angka US$ 95,95 per barel.
Data satelit menunjukkan aktivitas pemuatan minyak Arab Saudi dari wilayah Teluk Persia melonjak. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kerajaan tersebut telah mengalihkan kembali ekspornya melalui Selat Hormuz setelah penghentian operasi pipa lintas negara yang penting.
Di sisi diplomatik, Presiden Donald Trump dijadwalkan menyampaikan pidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada Selasa waktu setempat. Usai sidang, Trump berpeluang bertemu dengan mitranya dari Iran, Masoud Pezeshkian, di sela-sela pertemuan tersebut.
Selain itu, Trump juga dijadwalkan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping pada akhir pekan ini.
“Investor pasar minyak akan mencermati setiap perkembangan di bidang diplomatik ketika Presiden Trump bertemu dengan Presiden Pezeshkian dan Xi,” kata ekonom senior bidang iklim dan komoditas di Capital Economics Ltd, Hamad Hussain dikutip dari Bloomberg, Selasa (22/9).
Kendati demikian, dia mengatakan, belum ada jaminan bahwa pembicaraan tersebut akan menghasilkan kemajuan nyata, mengingat tuntutan AS dan Iran masih sangat berbeda.
Harga minyak telah melonjak lebih dari 60% sepanjang tahun ini karena perang di Timur Tengah mengganggu pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Hal ini terjadi bersamaan dengan konflik Rusia-Ukraina merusak infrastruktur energi.
Harga produk minyak olahan naik bahkan lebih cepat dibandingkan minyak mentah, dengan harga eceran diesel di AS melonjak ke rekor di atas US$ 6,50 per galon.
Perang di Timur Tengah yang pecah pada Februari ketika AS dan Israel menyerang Iran makin melibatkan banyak negara. Inggris telah sepakat untuk mendukung militer Arab Saudi dalam menghadapi kelompok Houthi yang didukung Teheran. Sedangkan Houthi juga terus mengancam pelayaran di Laut Merah dan di sekitar titik sempit Bab el-Mandeb.
Secara terpisah, pemerintahan Trump telah mengusulkan dana senilai US$ 5 miliar untuk membantu membangun kembali infrastruktur di seluruh kawasan yang rusak akibat perang.
Dana yang disebut Partnership for Allied Construction & Trust tersebut akan dipimpin oleh US Development Finance Corporation, dengan tujuan mendorong investasi, pembangunan kembali, dan ekspansi ekonomi, menurut dokumen yang menjelaskan gagasan tersebut.
Sementara itu, di Libya, produksi di ladang minyak terbesar negara tersebut anjlok lebih dari separuh setelah sebuah pipa ekspor Zawiya ditutup oleh kelompok bersenjata. Ladang Sharara saat ini memproduksi sekitar 127.000 barel per hari.
Lonjakan harga energi secara luas sepanjang tahun ini telah mendorong inflasi, dengan Federal Reserve menaikkan suku bunga pekan lalu untuk memperlambat laju kenaikan harga.
Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis Alberto Musalem mengatakan kenaikan suku bunga tambahan mungkin masih diperlukan untuk mencapai target bank sentral tersebut.
