ESDM Ungkap Ada Potensi Kerja Sama Hidrogen dengan Perusahaan Amerika Serikat
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan potensi kerja sama pengembangan energi hidrogen dengan beberapa perusahaan dari Amerika Serikat (AS). Potensi kerja sama ini terungkap setelah Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menghadiri G20 Energy Abundance Ministerial Meeting di Houston, Texas, Amerika Serikat pada 14-16 September 2026.
“Akan ada kerja sama juga dengan beberapa perusahaan dari AS,” kata Yuliot saat ditemui di Kementerian ESDM Jumat (2/10).
Hidrogen termasuk dalam sumber energi bersih yang keberadaannya cukup melimpah. Zat ini dapat diproduksi dari berbagai sumber, mulai dari air, biomassa, dan gas alam.
“Amerika mengembangan hidrogen untuk sumber energi. RI kan memiliki cadangan hidrogen yang bisa ditambang dalam jumlah besar tapi belum dimanfaatkan,” ujarnya.
Tak hanya PLTA, dalam agenda G20 beberapa pekan lalu, juga dibahas potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Yuliot menyebut dalam kesempatan tersebut Norwegia mempresentasikan 90% sumber listriknya berasal dari PLTA.
“Indonesia punya potensi sungai-sungai besar yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Jadi kami berharap bisa melakukan asistensi (dengan Norwegia) untuk berbagi pengalaman dalam mengembangkan PLTA,” katanya.
Potensi Hidrogen
Kementerian ESDM sebelumnya mencatat terdapat 93 proyek inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen.
“Proyek-proyek ini melahirkan Rp 32 triliun investasi yang akan kita kawal,” ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi dikutip dari Antara.
Proyek tersebut dirancang sebagai proyek yang masuk ke konsep dedieselisasi.
“Misalnya nanti di Sumba, kami harapkan 2028 bisa COD (beroperasi),” ujar Eniya.
Selain itu, Eniya juga mengatakan terdapat proyek di Pulau Rengit yang sudah bekerja sama dengan PLN untuk program dedieselisasi.
Sementara itu Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyampaikan Indonesia surplus hidrogen sebesar 125 ton per tahun, sebab saat ini RI hanya menggunakan 75 ton hidrogen dari 200 ton yang diproduksi.
“Kami produksi 200 ton, yang dipakai 75 ton. Sisanya 125 ton itu menganggur,” ujar Darmawan dalam kesempatan yang sama dengan Eniya.
Darmawan mengatakan setiap pembangkit PLN pasti memproduksi hidrogen. Lebih lanjut, ia juga menjelaskan hidrogen yang diproduksi digunakan dalam sistem pendingin pembangkit.
