Produksi Listrik Pertamina Geothermal Cetak Rekor, Lampaui Target 8,2%

Nur Hana Putri Nabila
20 Oktober 2026, 14:11
Pekerja memeriksa pipa Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (29/10/2024). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat hingga tahun 2024, real
ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/aww.
Pekerja memeriksa pipa Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (29/10/2024). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat hingga tahun 2024, realisasi dana bonus produksi dari lapangan panas bumi di Indonesia mencapai angka yang signifikan, yaitu lebih dari Rp950 miliar sejak tahun 2015 dan telah memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Anak usaha PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), mencatatkan produksi listrik panas bumi sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh) dari wilayah kerja yang dioperasikan sendiri sepanjang Januari–September 2026. 

Torehan itu menjadi rekor tertinggi produksi PGEO selama sembilan bulan sekaligus mencapai 108,22% dari target periode tersebut sebesar 3.801 GWh.

Selain itu, produksi listrik tersebut juga naik 9,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3.747 GWh. PGE mengklaim capaian ini didukung upaya menjaga keandalan operasional dan mengoptimalkan aset panas bumi yang dikelola perusahaan.

Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani, mengatakan perusahaan akan terus mendorong pertumbuhan bisnis dengan mengutamakan tata kelola perusahaan yang baik, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulasi. 

Memasuki kuartal keempat 2026, PGEO akan berfokus menjaga keandalan pembangkit untuk mengejar target produksi listrik tahunan sebesar 5.255 GWh.

“Melalui pengelolaan aset yang optimal dan pengembangan proyek strategis, Perseroan terus memperkuat perannya dalam mendukung transisi energi Indonesia,” kata Ahmad Yani dalam keterangannya, Senin (19/10).

Di samping itu, Direktur Operasi PGEO Andi Joko Nugroho mengatakan rekor produksi listrik panas bumi hingga September 2026 ditopang dari disiplin operasional dan pemeliharaan pembangkit, optimalisasi produksi, dan kesiapan pasokan uap di berbagai wilayah kerja.

Ia menyebut perusahaan menjaga keandalan pembangkit melalui pengelolaan reservoir, kesiapan fasilitas produksi, dan pemeliharaan yang lebih efisien. Upaya itu bertujuan memastikan pasokan listrik panas bumi tetap stabil dan berkelanjutan untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Hingga September 2026, Equivalent Availability Factor (EAF) kumulatif PGE mencapai 98,51%, melampaui target 92,20%. Sementara itu, Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) tercatat 0,21%, lebih rendah dibandingkan batas yang direncanakan sebesar 1,48%.

Dari lima area operasi, Kamojang mencatat produksi tertinggi sebesar 1.438 GWh atau 118,77% dari target, dengan kontribusi sekitar 35% terhadap total produksi. Lumut Balai menyusul dengan produksi 702 GWh atau 115,84% dari target. Adapun Lahendong menghasilkan 658 GWh atau 106,44% dari target.

Adapun Direktur Keuangan PGEO, Fransetya Hasudungan Hutabarat, mengatakan kinerja operasional juga menopang fundamental keuangan perusahaan. Pada semester pertama 2026, PGEO membukukan pendapatan US$ 79,61 juta, meningkat 15,48%.

Ia juga menyebut PGEO akan memperluas akses pembiayaan dengan biaya kompetitif untuk mendukung pengembangan bisnis. Sejumlah proyek strategis perusahaan juga telah masuk dalam Green Book Bappenas 2026.

“Hal ini membuka peluang pendanaan konsesional (concessional financing) dari lembaga pembiayaan internasional dengan biaya modal lebih rendah, yang diharapkan meningkatkan keekonomian proyek dan daya saing investasi,” ujar Fransetya.

Ia menjelaskan PGEO tidak hanya berfokus mengamankan pendanaan, tetapi juga mengoptimalkan struktur permodalan. Perseroan menjaga keseimbangan ekuitas dan utang dan mempertahankan profil kredit yang kuat untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan investor.

Tak hanya itu, Fransetya mengatakan PGEO juga melanjutkan ekspansi bisnis melalui optimalisasi aset yang ada, penambahan kapasitas pembangkit, dan pengembangan sumber pendapatan baru. Sejumlah proyek yang dikembangkan meliputi Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8.

Melalui pengembangan proyek tersebut, PGE menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...