Harga Minyak US$106 per Barel, PNBP Hulu Migas Diproyeksi Tembus 109% Target

Muhamad Fajar Riyandanu
20 Oktober 2026, 16:50
Petugas melakukan pengisian bahan bakar minyak (BBM) ke dalam kereta tanker Pertamina di TBBM Kertapati Pertamina, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (10/9/2024). Presiden Joko Widodo menetapkan stok BBM nasional sebesar 9,64 juta barel guna memastikan c
ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/tom.
Petugas melakukan pengisian bahan bakar minyak (BBM) ke dalam kereta tanker Pertamina di TBBM Kertapati Pertamina, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (10/9/2024). Presiden Joko Widodo menetapkan stok BBM nasional sebesar 9,64 juta barel guna memastikan cadangan ketersediaan BBM dalam mengatasi fluktuasi harga minyak global dan krisis darurat energi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memproyeksikan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor hulu migas bisa mencapai lebih dari 109% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Hitung-hitungan ini berangkat dari dorongan kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang menembus US$ 106 per barel. Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas, Desti Melanti, mengatakan kenaikan harga minyak mentah memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara dari sektor hulu migas.

ICP saat ini berada di kisaran US$ 105-US$ 106 per barel, lebih tinggi dari asumsi APBN yang berada di level US$ 75 per barel. “Insyaallah kami berhasil mencetak 109% lebih tinggi daripada target APBN yang telah ditetapkan. Tentunya ini tidak lepas dari adanya peningkatan harga komoditas dari minyak mentah itu sendiri,” kata Desti dalam konferensi pers Forum Ekonomi (FOREK) Hulu Migas 2026 di Aroem Resto, Jakarta Pusat, pada Selasa (20/10).

Desti menjelaskan realisasi penerimaan negara dari sektor migas pada September ini telah mencapai sekitar 80% dari target tahunan. Menurutnya, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan penerimaan negara meskipun lifting tidak mengalami pertumbuhan signifikan. “Pada saat harga (ICP) naik, walaupun lifting tidak naik signifikan, itu tetap mampu menaikkan target penerimaan negara,” ujarnya.

Lebih jauh, Desti memproyeksikan ICP bertahan pada rentang US$ 95-US$ 98 per barel, bahkan berpotensi mencapai US$ 100 per barel apabila ketidakpastian geopolitik global terus berlangsung.

Di sisi lain, SKK Migas masih berupaya mendekatkan realisasi lifting minyak ke target APBN melalui sejumlah skenario percepatan produksi, antara lain memanfaatkan momentum kenaikan harga minyak untuk mengoptimalkan volume lifting pada sisa dua bulan tahun ini.

Kendati demikian, Desti menyampaikan situasi lapangan migas yang mayoritas telah memasuki fase penurunan atau mature fields menyebabkan produksi minyak mengalami penurunan.

Guna menahan laju penurunan produksi, SKK Migas bersama kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) terus mendorong kegiatan pengeboran secara masif ke depannya. “Yang bisa kami optimalkan adalah percepatan lifting, menggunakan momentum pada saat harga naik,” ujarnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebelumnya mengatakan harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) saat ini sudah mencapai US$ 91-92 per barel. Hal ini terjadi imbas tembusnya harga minyak dunia yang melampaui US$ 100 per barel.

“Harapan kami memang harganya bagus, produksinya kita naikkan. Sekarang kita tetap akan melakukan relaksasi terbatas untuk menjaga supply and demand. Tapi kami juga ingin untuk bisa menaikkan devisa,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (19/10).

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...