Industri Manufaktur 2017 Tumbuh 4,7%, Makanan Jadi Penyumbang Utama

Dimas Jarot Bayu
1 Februari 2018, 14:53
Pangan retail
Katadata | Donang Wahyu
Ilustrasi. Produksi industri makanan yang mengalami kenaikan 9,93% selama 2017.
Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan produksi industri manufaktur di tingkat besar dan sedang (IBS) tahun 2017 naik 4,74% dibandingkan tahun 2016. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh naiknya produksi industri makanan yang mengalami kenaikan 9,93%.
 
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan industri makanan pada 2017 memiliki andil sebesar 27,09% terhadap total produksi IBS. "Itu merupakan pertumbuhan positif yang terbesar dibandingkan lainnya," kata Suhariyato di kantornya, Jakarta, Kamis (1/2).
 
Suhariyanto memaparkan, pertumbuhan tersebut disusul oleh industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional sebesar 7,94% dan industri barang logam, bukan mesin, dan peralatannya sebesar 6,39%.
 
 
Adapun, jenis industri manufaktur di tingkat IBS yang mengalami penurunan terbesar adalah industri pengolahan lainnya sebesar -4,51%. Penurunan ini disusul oleh industri minuman sebesar -2,77% dan industri jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan sebesar -2,28%.
 
Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang tahun 2017 berada di daerah DKI Jakarta (14,10%), Kepulauan Bangka Belitung (13,34%), dan Sulawesi Tenggara (9,17%).
 
"Ada provinsi yang pertumbuhannya masih negatif yaitu di Aceh (-6,39%), Sumatera Utara (-3,11%), Kepulauan Riau (-2,03%), Bali (-1,26%), dan Sumatera Barat (-0,54%)," kata Suhariyanto.
 
Sementara itu pada kuartal IV 2017 pertumbuhan produksi IBS naik 5,15% secara tahunan dibandingkan kuartal IV 2016. Kenaikannya pun disebabkan meningkatnya produksi industri makanan yang tercatat sebesar 15,28%. Sedangkan industri yang mengalami penurunan produksi terbesar adalah industri bahan kimia dan bahan dari kimia yang turun 12,02%.
 
Adapun pertumbuhan produksi industri mikro dan kecil pada kuartal IV/2017 sebesar 4,74% dibandingkan tahun 2016. Kenaikan tersebut didorong oleh pertumbuhan produksi industri komputer, barang elektronik, dan optik sebesar 35,25%.
 
Peningkatan pertumbuhan tersebut disusul oleh industri bahan kimia dan barang dari baha kimia sebesar 18,66%, industri kertas dan barang dari kertas sebesar 17,91%, industri logam dasar sebesar 11,67%, dan industri pencetakan dan reproduksi media rekaman sebesar 11,43%.
 
"Tapi andil peningkatan kepada total pertumbuhan IMK masih kecil," kata Suhariyanto.
 
 
Menurut Suhariyanto, andil terbesar pertumbuhan produksi IMK selama kuartal IV/2017 masih didominasi oleh industri makanan. Pasalnya, industri makanan memiliki andil pertumbuhan produksi sebesar 30,51%.
 
"Untuk mikro dan kecil sharenya tambah lebih besar lagi sebesar 30,51% dan kenaikannya juga lumayan di sana 9,20%," kata dia.
 
Untuk IMK, Suhariyanto memberikan catatan terhadap pertumbuhan industri pengolahan tembakau. Pasalnya, industri tersebut memiliki penurunan paling besar selama kuartal IV/2017 sebesar -20,45%.
 
"Untung share-nya kecil hanya 0,4%, tapi penurunannya lumayan tajam di sana. Tentu ini dipengaruhi oleh masa panen tembakau," kata dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...