Airlangga soal Tarif Impor Trump: Ada Tiga Sektor Berpeluang Kuasai Pasar AS
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan tarif impor oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka peluang bagi beberapa komoditas lokal. Salah satu komoditas yang disoroti Airlangga adalah tekstil dan produk tekstil atau TPT.
Untuk diketahui, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tarif impor produk Indonesia ke AS sebesar 32%. Namun, Airlangga mencatat tarif tersebut tidak berlaku bagi komoditas TPT seperti pakaian jadi dan alas kaki lantaran dinilai bukan komoditas strategis.
"Jadi, komoditas tersebut bisa dinegosiasikan dengan pemerintah. Kemarin, Nike Inc dan beberapa perusahaan TPT telah meminta rapat daring dengan pemerintah langsung," kata Airlangga dalam Silaturahmi Ekonomi Bersama Presiden RI: Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Nasional di Jakarta, Selasa (8/4).
Airlangga juga melihat ada peluang bagi Indonesia untuk mengambil alih pangsa pasar dari negara pesaing seperti China, Vietnam, Kamboja, dan Bangladesh. Sebab, tarif yang dikenakan AS ke negara-negara tersebut lebih tinggi dibanding Indonesia.
Di samping itu, Airlangga menilai pengenaan tarif produk TPT di Amerika Serikat tidak akan berdampak besar. Sebab, harga jual yang diterima eksportir alas kaki di Amerika Serikat hanya US$ 20 per unit, sedangkan harga yang dinikmati konsumen di Negeri Paman Sam mencapai US$ 80 per unit.
Airlangga menilai peluang tersebut harus dimanfaatkan secara cepat. Untuk itu, Airlangga mendorong pelaku industri TPT untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi. Selain produk TPT, komoditas lain yang akan dikecualikan dari peningkatan tarif tersebut adalah furnitur. Hal ini disebabkan perang dagang komoditas kayu antara Amerika Serikat dengan Kanada yang dimulai belum lama ini.
Untuk komoditas emas dan tembaga, lanjutnya, AS tidak akan menetapkan tarif yang tinggi. Alasannya, AS memiliki investasi yang besar dalam kedua sektor tersebut, seperti PT Freeport Indonesia.
Di saat yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai beberapa sektor manufaktur juga dapat memanfaatkan peluang peningkatan tarif di Amerika Serikat. Hal tersebut secara tidak langsung meningkatkan daya saing produk lokal di Amerika Serikat.
"Jadi kita harus melihat komoditas apa yang berpotensi membuat Indonesia jadi pemasok utama di Amerika Serikat dengan melihat komoditas tertentu yang tarifnya lebih rendah dari negara lain," kata Sri Mulyani.
