Harga Pangan Tinggi, Inflasi Telur Ayam Ras Jadi Sorotan Pemerintah
Kementerian Pertanian menduga tingginya biaya logistik dan margin yang diambil peritel diduga menjadi penyebab utama kenaikan harga pangan di pasar. Salah satu komoditas yang menjadi sorotan dan diwaspadai pada akhir tahun ini adalah telur ayam ras.
"Telur ayam ras sudah masuk dalam tren kenaikan inflasi sedang dan perubahan IPH (indeks perkembangan harga) kategori kenaikan sedang," kata Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi di Jakarta, Senin (6/10).
Dalam catatannya, ada tiga kabupaten/kota dengan pertumbuhan IPH tinggi akibat telur ayam ras, yakni Kota Tanjungbalai (Sumatera Utara), Kabupaten Buton Utara (Sulawesi Tenggara), dan Kabupaten Tasikmalaya (Jawa Barat).
Staf Ahli Menteri Bidang Investasi Kementerian Pertanian Suwandi mengatakan neraca produksi telur ayam ras pada tahun ini surplus sejumlah 290.015 ton. Namun 32 dari 38 provinsi menunjukan defisit produksi telur ayam ras sepanjang 2025.
Adapun lima provinsi yang menunjukkan surplus produksi telur ayam ras adalah Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Lampung, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan.
Rendahnya jumlah provinsi yang mencatatkan surplus membuat disparitas antara harga yang diterima peternak dan dibayarkan konsumen cukup tinggi. Kondisi ini, menurut Suwandi, dapat terjadi pada komoditas lain, seperti daging ayam ras, cabai merah, dan bawang merah.
Ia mengatakan, untuk mengatasi defisit, maka perlu peningkatan produksi telur ayam dalam negeri. Sepertiga atau 31,78% produksi telur ayam ras nasional tahun ini diproyeksikan berasal dari Jawa Timur, yakni 2,07 juta ton.
