Respons Purbaya, Istana Cari Skema Atasi Beban Keuangan Whoosh Tanpa APBN

Muhamad Fajar Riyandanu
13 Oktober 2025, 09:13
whoosh, kereta cepat, apbn
ANTARA FOTO/Abdan Syakura/bar
Kereta cepat Whoosh melintas di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (31/7/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Istana Kepresidenan tengah berupa mencari sumber pendanaan alternatif proyek kereta cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) dengan tujuan mengurangi beban keuangan negara.

Langkah ini merupakan kelanjutan dari pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang tidak ingin menanggung utang PT kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC).

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, mengatakan pemerintah sedang mencari solusi untuk mengatasi beban keuangan proyek Whoosh tanpa langsung menggunakan dana APBN.

“Beberapa waktu yang lalu juga sudah dibicarakan untuk diminta mencari skemanya, skema supaya beban keuangan itu bisa dicarikan jalan keluar,” kata Prasetyo kepada wartawan di kediaman Prabowo, Kertanegara IV, Jakarta Selatan pada Ahad (12/10).

Prasetyo menekankan proyek Kereta Cepat Whoosh kini menjadi infrastruktur strategis bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan mobilitas dan konektivitas antarwilayah Ibu Kota dan Jawa Barat.

Pemerintah juga tengah berkeinginan untuk memperpanjang trayek Whoosh hingga Surabaya, Jawa Timur. “Justru pemerintah ingin itu berkembang tidak hanya dari Jakarta ke Bandung. Mungkin juga kami sedang berpikir untuk sampai ke Surabaya,” ujarnya.

Sebelumnya, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin menanggung utang PT KCIC. Pernyataan ini merespons opsi yang diajukan Danantara terkait restrukturisasi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, salah satunya dengan APBN.

“Yang jelas sekarang saya belum dihubungi tentang masalah itu, tapi KCIC ini di bawah Danantara kan. Kalau di bawah Danantara, mereka sudah punya manajemen sendiri,” kata Purbaya saat sesi Zoom meeting dengan media di Bogor pada Jumat (10/10).

Purbaya beranggapan KCIC seharusnya sudah memiliki sumber dividen yang kuat untuk menopang keuangannya. Ia menyebut, rata-rata dividen yang diterima bisa mencapai sekitar Rp 80 triliun per tahun.

Dengan kapasitas tersebut, menurut Purbaya, KCIC semestinya mampu mengelola dan menanggung utang proyek Kereta Cepat Whoosh tanpa harus bergantung pada dukungan APBN.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...