Keran Impor Besi Tua Ditutup, Industri Baja Nasional Lumpuh
Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia atau IISIA mengatakan seluruh peleburan baja di dalam negeri telah menghentikan operasinya pada bulan ini. Sebab, pemerintah telah menutup keran impor besi tua yang menjadi bahan baku industri tersebut.
Wakil Ketua Umum IISIA, Ismail Mandry memberikan sinyal mesin produksi di industri peleburan baja saat ini mati karena tidak ada bahan baku. Ia menilai penutupan keran impor besi tua untuk menghentikan penyebaran kontaminasi zat radioaktif atau Cesium-137 tidak tepat.
"Penghentian keran impor besi tua keliru karena pemerintah juga belum tahu apakah scrap yang jadi sumber merupakan baja atau mineral lainnya. Puluhan ribu buruh di industri baja sekarang tidak bekerja," kata Ismail kepada Katadata.co.id, Rabu (22/10).
Untuk diketahui, hampir setengah dari industri baja di dalam negeri menggunakan besi tua sebagai bahan baku. Adapun pabrikan mengolah besi tua menjadi besi billet sebelum akhirnya dibentuk menjadi komponen konstruksi, seperti kawat, rangka baja, dan mur.
Cemaran Cesium-137
Pemerintah menemukan pencemaran Cesium-137 bermula dari PT Peter Metal Technology di Kawasan Industri Modern Cikande, Jawa Barat. Ismail menemukan perusahaan tersebut tidak menggunakan besi tua sebagai bahan baku setelah memeriksa aliran bahan baku seluruh pabrik di KIM Cikande di Kementerian Perdagangan.
Dari temuannya, tidak ada pabrik yang menggunakan besi tua di kawasan tersebut. Selain itu, tidak ada sumber yang jelas asal impor bahan baku di area tersebut.
Ismail mengatakan industri baja nasional tidak pernah menemukan cemaran Cesium-137 sejak pertama kali mengimpor besi tua sebagai bahan baku pada 1980-an. Karena itu, ia mempertanyakan alasan pemerintah menghentikan impor besi tua pada bulan ini.
"Kebijakan penghentian impor besi tua membuat kondisi industri baja nasional kacau. Kebijakan ini baru akan dirasakan konsumen selambatnya bulan depan," katanya.
Asal Impor Besi Tua
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq mengatakan pemerintah telah selesai mendekontaminasi 22 pabrik peleburan baja di KIM Cikande. Petugas mengumpulkan ratusan ton limbah hasil peleburan besi tua yang terkontaminasi Cesium-137.
Hanif menyampaikan pemerintah melanjutkan proses dekontaminasi ke area residensial di sekitar KIM Cikande. Dengan demikian, warga sekitar KIM Cikande kini direlokasi sementara dan harus membuang semua pakaiannya.
"Mudah-mudahan proses dekontaminasi ara residensial bisa selesai sebelum 30 hari. Bupati Serang akan memberikan bantuan sosial berbentuk lokasi penginapan, sembako, dan baju dari anggaran daerah," kata Hanif.
Hanif menyampaikan ada dua dugaan sumber cemaran Cesium-137, yakni besi tua impor dan limbah hasil pengolahan besi tua. Namun sampai saat ini belum ada jawaban pasti dari mana sumber cemaran zat radioaktif tersebut.
Karena itu, Hanif memutuskan untuk menghentikan semua aliran besi tua impor sementara sampai pabrikan memasang radiation portal monitoring RPM adalah alat yang dapat mendeteksi kandungan radioaktif tanpa harus menggeledah isi barang.
"Dua dugaan tersebut musti didalami Kepolisian. Saya ingin pendalaman tersebut cepat selesai, tapi langkah antisipasi yang kami lakukan adalah menutup keran impor besi tua," ujarnya.
Hanif pun mengakui belum mengetahui secara pasti asal negara besi tua impor yang mengandung cemaran Cesium-137. Namun ada dua negara pemasok utama besi tua ke dalam negeri, yakni Cina dan Amerika Serikat.
