1.819 Produk Indonesia Bebas Tarif Ekspor ke AS: Minyak Sawit hingga Rempah

Ade Rosman
20 Februari 2026, 17:23
Indonesia, AS, tarif
ANTARA FOTO/Auliya Rahman/nz
Pekerja menurunkan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dari mobil bak terbuka di salah satu pengepul di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (29/10/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) telah resmi menandatangani perjanjian tarif perdagangan timbal balik antara kedua negara. Kerja sama Agreement of Reciprocal Trade (ART) yang berjudul ‘Toward a New Golden Age for the US-Indonesia Alliance" ini menyepakati penghapusan tarif ekspor untuk 1.819 produk pertanian dan industri dari Indonesia ke AS. 

“Dalam ART ini ada 1.819 pos tarif produk Indonesia, baik itu pertanian maupun industri, antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor dan komponen pesawat terbang, yang tarifnya adalah 0%,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers secara daring, Jumat (20/2). 

Hal serupa diterapkan untuk produk tekstil dan produk pakaian jadi asal Indonesia.

“Dengan mekanisme Tariff Rate Quota (TRQ), tentunya ini memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja di sektor ini, dan kalau kita hitung dengan keluarga, ini sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia,” kata Airlangga. 

Di sisi lain, pemerintah tengah menyiapkan rencana pembelian sejumlah komoditas utama dari Amerika Serikat sebagai bagian dari ART yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump tersebut. 

Airlangga menyebut pembelian komoditas tersebut merupakan turunan dari kesepakatan dagang resiprokal yang sebelumnya juga diperkuat melalui 11 memorandum of understanding (MoU) senilai total US$ 38,4 miliar termasuk komoditas energi, pembelian produk agrikultur, dan lainnya.

Tarif Nol Persen untuk Produk Gandum dan Kedelai AS

Dalam kesepakatan ini juga disetujui bahwa Indonesia akan memberikan 0% tarif bagi komoditas gandum dan kedelai yang masuk dari AS.

“Sehingga masyarakat Indonesia membayar 0% untuk barang yang diproduksi dari soybean ataupun wheat, dalam hal ini noodle ataupun dalam bentuk tahu dan tempe. Jadi masyarakat kita tidak dikenakan beban tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari Amerika Serikat,” kata Airlangga.

Selain itu, pemerintah juga berencana mengimpor jagung dan kapas dari AS. Kapas disebut menjadi bahan baku penting bagi industri tekstil nasional, sementara jagung digunakan untuk kebutuhan pakan dan industri pangan.

Pemerintah berharap penguatan pasokan bahan baku dari AS dapat mendukung daya saing industri dalam negeri, terutama setelah produk tekstil Indonesia memperoleh fasilitas tarif 0% melalui skema tarif kuota dalam perjanjian ART tersebut. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...