Peternak Setuju Wacana Impor 100.000 Sapi dari Brasil untuk Atasi Defisit Daging
Kebutuhan daging sapi nasional masih belum mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Peternak menilai impor masih menjadi langkah yang tidak bisa dihindari, termasuk rencana pemerintah mengimpor 100.000 sapi dari Brasil.
Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Djoni Liano, mengatakan defisit daging sapi nasional masih cukup tinggi sehingga impor masih diperlukan untuk menutup kekurangan pasokan.
Menurut dia, berdasarkan perhitungan pemerintah, defisit daging sapi nasional masih sekitar 54% dari total kebutuhan nasional. Dengan kondisi tersebut, impor sapi masih menjadi satu-satunya solusi untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga di dalam negeri.
“Hitungan pemerintah juga begitu, defisitnya masih sekitar 54% dari kebutuhan nasional,” ujar Djoni, ditemui di kawasan Kompleks Parlemen Senayan, Senin (30/3).
Rencana itu disebutnya sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai swasembada komoditas protein. Impor yang direncanakan pemerintah disebutnya tak hanya untuk sapi potong, melainkan sapi indukan yang bertujuan meningkatkan populasi.
Djoni mengatakan, hal yang perlu diperhatikan pemerintah adalah model bisnis dari impor sapi indukan tersebut. Ia mengatakan, perlu ada kejelasan skema, apakah sapi indukan akan dikelola di peternakan pemerintah atau langsung didistribusikan ke peternak.
Menurutnya, pemerintah saat ini juga cenderung mendorong impor sapi hidup dibandingkan daging beku karena dinilai memberikan nilai tambah lebih besar bagi industri dalam negeri.
Padahal, impor sapi hidup dapat mendorong penyerapan tenaga kerja, penggunaan pakan lokal, hingga aktivitas pemotongan di rumah potong hewan yang turut menggerakkan industri turunan seperti kulit dan produk samping lainnya. "Jadi industrinya bergerak di dalam negeri,” katanya
Sebelumnya, Kementerian Koordinator Bidang Pangan menargetkan pasokan populasi sapi sebanyak 2 juta ekor hingga 2029. Target ini sebagai langkah untuk memperkuat produksi daging dan susu nasional. Selain itu, kebijakan impor juga untuk menutup kekurangan pasokan dalam jangka pendek sambil menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
