Badan Pangan Waspadai Potensi Kenaikan Harga Beras dan Gula Imbas Krisis Plastik
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengingatkan potensi kenaikan harga beras dan gula akibat terganggunya pasokan bahan baku plastik. Harga kedua komoditas itu tercatat naik hingga Rp 350 per kilogram.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan fluktuasi harga plastik mulai dirasakan pelaku usaha pangan strategis, terutama sektor beras dan gula yang sangat bergantung pada kemasan karung plastik.
“Memang ada beberapa yang mengalami kenaikan, salah satunya plastik karena biji plastik merupakan turunan dari pengolahan minyak bumi, yang banyak berasal dari Timur Tengah,” ujar Ketut dalam keterangan resmi, dikutip Senin (20/4).
Bapanas telah menghimpun masukan dari pelaku usaha dan menghitung dampak langsung kenaikan biaya plastik terhadap harga pangan. Hasilnya, biaya produksi beras diperkirakan naik sekitar Rp 350 per kilogram, sementara gula sekitar Rp 150 per kilogram.
“Artinya cukup berdampak dan ini yang harus kita jaga benar ke depannya,” kata Ketut.
Meski demikian, berdasarkan pemantauan Bapanas, harga beras dan gula secara nasional masih relatif terkendali dalam sebulan terakhir. Kenaikan yang terjadi belum menyentuh level signifikan.
Per 16 April, rata-rata harga beras medium masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Di Zona I, harga beras nyaris stagnan dari Rp 12.964 per kg menjadi Rp 12.965 per kg. Zona II naik tipis 0,27 persen dari Rp 13.585 menjadi Rp 13.622 per kg. Sementara, harga Zona III meningkat 0,65 persen dari Rp 15.056 menjadi Rp 15.154 per kg.
Sementara itu, harga gula menunjukkan tren beragam. Secara nasional di wilayah barat Indonesia, harga naik 2,06 persen dari Rp 18.240 menjadi Rp 18.615 per kg. Namun di Indonesia Timur justru turun 1,22 persen dari Rp 20.412 menjadi Rp 20.163 per kg.
Ketut mengatakan Bapanas akan memperkuat koordinasi lintas kementerian untuk mencegah tekanan harga semakin besar. Bapanas berencana menggelar rapat bersama kementerian terkait guna mencari solusi atas keterbatasan pasokan plastik.
“Karena meskipun terlihat kecil, kenaikan Rp 350 per kilogram tetap berpengaruh pada harga akhir,” ujarnya.
Koordinasi tersebut akan melibatkan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia untuk memastikan ketersediaan bahan baku plastik bagi sektor pangan tetap terjaga.
Di sisi lain, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjamin ketersediaan stok plastik dalam negeri. Pemerintah telah mempertemukan pelaku industri hulu hingga hilir, termasuk sektor daur ulang, untuk menyusun langkah mitigasi bersama.
“Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Namun, pemerintah tetap memantau perkembangan situasi global secara cermat,” kata Agus. Dia mengatakan, industri berkomitmen menjaga kesinambungan suplai plastik, terutama untuk pelaku usaha kecil agar tetap kompetitif.
Gejolak geopolitik di kawasan Selat Hormuz turut memicu kenaikan biaya logistik dan pengiriman bahan baku plastik. Waktu pengiriman yang sebelumnya sekitar 15 hari kini bisa molor hingga 50 hari. Kondisi ini memperbesar beban biaya produksi dan berpotensi menekan harga pangan ke depan.
