Pupuk Indonesia Diincar Negara Lain Imbas Konflik Global, Pasokan Domestik Aman
PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan ketahanan pasokan bahan baku pupuk nasional tetap terjaga di tengah tingginya permintaan ekspor dan dinamika pasokan global. Salah satu strategi adalah dengan memperkuat buffer bahan baku melalui kapasitas produksi domestik, termasuk dari Petrokimia Gresik dan negara alternatif.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan, kondisi stok pupuk nasional saat ini berada pada level aman dan mencukupi kebutuhan petani. Hingga 23 April 2026, stok pupuk tercatat sekitar 1,19 juta ton.
Angka itu diperkuat dengan produksi harian yang stabil, yakni sekitar 25 ribu ton per hari untuk urea dan 15 ribu ton per hari untuk NPK.
“Dari sisi ketersediaan, stok pupuk nasional berada pada level yang aman dan mencukupi untuk kebutuhan petani,” ujar Rahmad kepada Katadata.co.id, Selasa (28/4).
Ia menjelaskan, sepanjang 2026 produksi urea nasional ditargetkan mencapai sekitar 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik sekitar 6,3 juta ton. Dengan demikian, terdapat surplus produksi yang memberi ruang bagi Indonesia untuk merespons permintaan global.
Meski demikian, Rahmad menegaskan tingginya permintaan ekspor tidak akan mempengaruhi ketersediaan pupuk di dalam negeri. Sesuai arahan pemerintah, ekspor dilakukan secara selektif dan terukur setelah kebutuhan domestik terpenuhi.
“Pasokan pupuk untuk petani tetap menjadi prioritas utama,” katanya.
Menurut Rahmad, meningkatnya permintaan ekspor urea Indonesia didorong terganggunya pasokan global akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat banyak negara mencari sumber pasokan alternatif yang lebih stabil, termasuk dari Indonesia.
Dalam situasi itu, Pupuk Indonesia dinilai berada pada posisi strategis sebagai salah satu produsen pupuk berbasis nitrogen terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Utara (APAC-MENA).
Kapasitas produksi yang kuat serta dukungan pasokan gas domestik yang relatif stabil membuat Indonesia mampu menjaga keberlanjutan produksi di tengah ketidakpastian global.
Rahmad menambahkan, perseroan juga siap mendukung langkah pemerintah untuk membuka pasar ekspor pupuk ke Australia dan negara lainnya, dengan tetap mengutamakan kebutuhan dalam negeri.
Strategi Jaga Pasokan Bahan Baku Domestik
Dari sisi bahan baku, Pupuk Indonesia menyebut produksi urea relatif aman karena menggunakan gas alam domestik yang pasokan dan harganya diatur pemerintah. Hal ini membuat produksi tidak terdampak langsung oleh gejolak global.
“Untuk urea, ketahanan relatif kuat karena bahan baku utamanya berupa gas alam domestik yang pasokan dan harganya diatur pemerintah,” kata Rahmad.
Sementara itu, untuk bahan baku impor, perusahaan melakukan diversifikasi sumber pasokan. Fosfat diperoleh dari Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Kalium dipasok dari Kanada dan Laos, sedangkan sulfur berasal dari berbagai negara seperti Timur Tengah, Kanada, Kazakhstan, Taiwan, dan India.
Khusus sulfur, di tengah lonjakan harga global, Pupuk Indonesia mengoptimalkan pengadaan asam sulfat secara langsung dari negara-negara di luar kawasan konflik seperti Jepang, China, Taiwan, Korea Selatan, dan Australia. Langkah ini dinilai memberi fleksibilitas lebih tinggi dalam menjaga kesinambungan produksi sekaligus mengelola biaya.
Di sisi lain, ketahanan pasokan juga diperkuat melalui kapasitas domestik. Produksi asam sulfat milik Petrokimia Gresik disebut berperan sebagai buffer penting dalam menjaga stabilitas operasional pabrik pupuk nasional.
“Ketahanan pasokan juga diperkuat melalui kapasitas domestik, termasuk produksi asam sulfat oleh Petrokimia Gresik yang berperan sebagai buffer dalam menjaga stabilitas operasional,” kata Rahmad.
