Industri Plastik Hadapi New Normal: Harga Tak Kembali ke Level Sebelum Krisis

Kamila Meilina
6 Mei 2026, 17:22
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono (kanan) menyampaikan paparan pada Katadata Policy Dialogue di Jakarta, Rabu (6/5/2026). Diskusi tersebut membahas konflik di Timur Tengah yang membuat har
Katadata/Fauza Syahputra
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono (kanan) menyampaikan paparan pada Katadata Policy Dialogue di Jakarta, Rabu (6/5/2026). Diskusi tersebut membahas konflik di Timur Tengah yang membuat harga energi melonjak dan menekan berbagai sektor industri antara lain petrokimia seperti plastik ikut terdampak, biaya bahan baku naik, suplai terganggu, dan efeknya merambat ke manufaktur, otomotif, hingga makanan-minuman.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pasokan dan distribusi bahan baku plastik mulai bersangsur pulih setelah sempat mengalami kiris akibat perang Amerika Serikat dengan Iran. Industri plastik saat ini mengalami "new normal" dimana pasokan mulai stabil dan harga mulai turun, tapi tak akan kembali ke level sebelum krisis.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, menilai pasar kini mulai memasuki fase keseimbangan baru atau “harga baru” seiring membaiknya distribusi bahan baku. Kondisi pasar mulai menunjukkan perbaikan setelah sempat mengalami kepanikan akibat kenaikan harga yang signifikan, bahkan mencapai 40% hingga 100% dalam waktu singkat.

“Kabar baiknya, harga sudah mulai turun dan pasokan mulai masuk kembali. Jadi dalam dua sampai tiga minggu ke depan kita harapkan harga sudah mulai stabil,” ujarnya dalam acara Katadata Policy Dialogue bertajuk "Nasib Industri Tanah air di Bawah Bayang-bayang Perang Global" di Kantor Katadata, Jakarta Selatan, Rabu (6/5). 

Lonjakan harga sebelumnya dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku, terutama dari kawasan Timur Tengah, akibat konflik geopolitik dan hambatan logistik. Kondisi ini menyebabkan keterlambatan pengiriman serta peningkatan biaya distribusi, termasuk asuransi dan transportasi.

Di sisi lain, industri dalam negeri sempat memasuki fase “survival mode” dengan menurunkan tingkat utilisasi produksi hingga di bawah 70% karena keterbatasan bahan baku seperti nafta. 

Pelaku industri kemudian mencari alternatif pasokan, termasuk dari Amerika Serikat, meski waktu pengiriman menjadi lebih lama dari sebelumnya sekitar 15 hari menjadi hingga 50 hari.

Seiring mulai pulihnya jalur distribusi dan masuknya kembali impor bahan baku, kondisi pasokan kini berangsur membaik. Tingkat utilisasi industri juga mulai meningkat ke level 75% dan diperkirakan dapat mencapai 80–85% dalam waktu dekat.

Masuk Fase ‘Harga Baru’ di Industri 

Fajar menilai harga tidak akan kembali ke level sebelum krisis. Industri diperkirakan akan memasuki fase “normal baru” alias “New Normal” dengan struktur harga yang berbeda, seiring perubahan dinamika pasokan dan biaya produksi global.

“Dari pengalaman sebelumnya, harga biasanya tidak kembali ke titik awal, tapi akan menemukan level baru,” katanya.

Menurutnya, kondisi ini bukan pertama kali terjadi. Ia mencontohkan krisis sebelumnya pada 1998 dan 2008, di mana harga plastik mengalami lonjakan signifikan sebelum akhirnya menemukan titik keseimbangan baru.

Ia mencontohkan, pada krisis 1998 harga bijih plastik sempat berada di kisaran US$400 per ton, kemudian naik menjadi sekitar US$700 dalam satu tahun, hingga menembus di atas US$1.000 sebelum akhirnya menemukan titik keseimbangan baru di level US$800 per ton yang bertahan hingga periode 2008.

“Dari pengalaman sebelumnya, harga tidak kembali ke titik awal, tetapi menemukan level baru. Ini yang kemungkinan akan terjadi lagi sekarang,” ujarnya.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, industri didorong untuk melakukan berbagai inovasi guna menjaga daya beli pasar. Beberapa strategi yang dilakukan antara lain menyesuaikan spesifikasi produk, mengurangi ketebalan material, serta menggunakan bahan campuran atau filler untuk menekan biaya produksi.

“Industri harus berinovasi agar konsumen tetap bisa membeli. Bisa dengan mengubah spesifikasi, atau menggunakan campuran bahan lain,” kata Fajar.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...