Dua Pabrik Otomotif Berencana Pindah ke Vietnam, 7.000 Buruh Terancam PHK
Rencana relokasi dua perusahaan otomotif di Jawa Timur ke Vietnam memicu kekhawatiran serius terkait potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan pekerja. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyebut sedikitnya 7 ribu buruh berpotensi terdampak jika relokasi tersebut benar terjadi.
Menurut Said, yang juga Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, pihaknya telah menerima informasi bahwa dua perusahaan berinisial PT J dan PT S tengah berada dalam tahap pembahasan internal terkait rencana pemindahan sebagian produksi ke Vietnam. Kedua perusahaan itu masih dalam proses negosiasi dengan serikat pekerja.
“PHK juga terjadi kemungkinan besar di dua perusahaan otomotif di Jawa Timur. Kalau tidak hati-hati penanganan, ini bisa berdampak besar pada tenaga kerja,” ujar Said ditemui usai Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) di Jakarta, Selasa (23/6).
Terkait potensi PHK dari pemindahan pabrik ini, Said mengatakan kemungkinan 7 ribu buruh bisa menjadi korban. Ia mencatat saat ini PT J memiliki 7 ribu karyawan, dari jumlah itu 4 ribu di antaranya berpotensi terkena PHK.
“Memang baru omong-omong 4 ribu. Tapi saya sih nggak begitu yakin 4 ribu. Kan biasanya manajemen itu ambil call tinggi, mungkin ribuan tapi tidak mungkin 4 ribu,” ujar dia.
Sementara itu, PT S disebut memiliki sekitar 4 ribu karyawan, dengan 3 ribu di antaranya terancam kena PHK. “3 ribu (terkena PHK) omong-omongnya. Tapi mungkin ribuan lah,” ia menambahkan.
Demikian, ia berencana menempuh pendekatan internasional melalui serikat buruh di Jepang, mengingat keputusan relokasi diduga berasal dari prinsipal perusahaan di Jepang.
“Kalau prinsipal di Jepang agak sulit, karena harus government to government. Kami akan menggunakan jalur serikat buruh Jepang untuk meyakinkan agar tidak dipindahkan ke Vietnam,” ujarnya.
Masih Tahap Negosiasi
Rencana relokasi tersebut belum sepenuhnya final. Menurutnya, proses pemindahan pabrik tidak dapat dilakukan secara cepat karena masih berada pada tahap negosiasi dan kemungkinan baru akan terealisasi dalam 1–2 tahun ke depan.
Keputusan relokasi tidak serta-merta menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi menarik bagi investor, melainkan lebih pada strategi bisnis perusahaan di kawasan Asia Pasifik. “Bukan berarti Indonesia tidak menarik. Ini lebih pada strategi bisnis global mereka,” katanya.
Koordinasi dengan pihak manajemen dan Kementerian Perindustrian direncanakan akan digelar dalam waktu dekat. “Minggu depan akan diatur pertemuan dengan Menteri Perindustrian, akan dipanggil pengusaha dan serikat buruh untuk mencari jalan keluar,” katanya.
