GAPKI: Program B50 Bisa Dongkrak Harga TBS Jika Pemerintah Tak Naikkan Pungutan
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai implementasi program biodiesel B50 berpotensi mendorong kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) sekaligus harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani. Namun, manfaat itu hanya akan maksimal apabila pemerintah tidak kembali menaikkan pungutan ekspor (PE) CPO untuk membiayai program biodiesel.
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan pengalihan sebagian produksi CPO dari pasar ekspor ke kebutuhan domestik melalui program B50 justru akan memperketat pasokan minyak nabati di pasar internasional. Kondisi itu diperkirakan dapat mendorong kenaikan harga minyak nabati dunia, termasuk minyak sawit.
"Ini justru akan meningkatkan harga CPO dalam negeri, ujung-ujungnya harga TBS petani juga akan naik," ujar Eddy dalam keterangannya, dikutip Rabu (8/7).
Pernyataan itu menanggapi kekhawatiran Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) yang sebelumnya menilai implementasi B50 berpotensi menekan harga TBS setelah pemerintah menaikkan tarif pungutan ekspor CPO menjadi 12,5%.
SPKS memperkirakan program B50 dapat menghasilkan manfaat ekonomi hingga Rp 24,68 triliun. Namun berdasarkan perhitungan, kenaikan pungutan ekspor telah menekan harga TBS sekitar Rp 833 per kilogram sehingga berpotensi menimbulkan kerugian petani sawit nasional mencapai Rp 499 miliar hingga Rp 500 miliar setiap bulan.
Menurut Eddy, kekhawatiran itu belum tentu terjadi. Jika lebih banyak CPO digunakan di dalam negeri untuk program B50, maka volume ekspor akan berkurang. Akibatnya, pasokan minyak sawit di pasar global menjadi lebih sedikit.
Jika produksi minyak nabati lain seperti kedelai, bunga matahari, dan rapeseed tidak bertambah, harga minyak sawit dunia berpotensi naik karena pasokannya lebih terbatas. Kenaikan harga global itu kemudian dapat mendorong harga CPO di dalam negeri, sehingga harga TBS yang diterima petani juga berpeluang meningkat.
Berharap Pungutan Ekspor CPO Tidak Naik
Meski demikian, Eddy mengingatkan manfaat tersebut hanya akan dirasakan jika pemerintah tidak kembali menaikkan pungutan ekspor (PE) CPO.
Menurutnya, jika penerimaan Dana Sawit berkurang akibat turunnya ekspor lalu pemerintah menaikkan tarif pungutan ekspor untuk membiayai program biodiesel, maka harga CPO di dalam negeri justru bisa tertekan. Dampaknya, harga TBS yang diterima petani juga berpotensi turun.
"Kalau kemudian pungutan ekspor berkurang lalu PE dinaikkan lagi, maka ini yang akan menekan harga CPO dalam negeri dan juga harga TBS petani," kata Eddy.
Dari sisi pasokan, GAPKI memastikan produksi CPO nasional masih mencukupi untuk mendukung implementasi B50. Tambahan kebutuhan CPO diperkirakan sekitar 1,74 juta ton dan masih bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri.
"Seharusnya tahun ini produksi cukup untuk mendukung B50, kebutuhan sekitar 1,74 juta ton," ujar Eddy.
Secara keseluruhan, GAPKI menilai program B50 dapat menjadi momentum positif bagi industri sawit nasional karena berpotensi memperkuat harga CPO dan meningkatkan harga TBS petani, asalkan kebijakan pungutan ekspor tidak kembali dinaikkan.
