Strategi Industri Makanan dan Minuman Menuju Dekarbonisasi

Image title
Oleh Katadata Green
23 September 2026, 14:17
Strategi Industri Makanan dan Minuman Menuju Dekarbonisasi
ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/tom.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Dekarbonisasi merupakan salah satu agenda dalam mencapai target net zero emission (NZE) pada 2060. Sektor industri berperan penting dalam dekarbonisasi, karena menyumbang sekitar 34 persen emisi nasional.

Industri Minuman Ringan mengungkapkan sejumlah langkah strategis serta tantangan yang dihadapi dalam merealisasikan dekarbonisasi industri.

Berdasarkan Strategi Jangka Panjang Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim 2050 (LTS-LCCR 2050), industri makanan minuman adalah satu dari delapan kelompok industri penghasil emisi gas rumah kaca (GRK).

Data Kementerian Perindustrian yang dikutip Kadin, emisi GRK sektor industri pada 2022 mencapai 238,05 juta ton CO₂e setelah aksi mitigasi. Tanpa aksi mitigasi, emisi skenario Business as Usual (BaU) diperkirakan mencapai 292 juta ton CO₂e. Artinya, terjadi penurunan 53,9 juta ton CO₂e dari mitigasi.

Sementara laporan Katadata ESG Insight (KESGI) pada 2026, skor aspek lingkungan di sektor industri makanan minuman rata-rata berada di atas 60. 

Adapun, beberapa perusahaan dengan skoring KESGI terbaik  di sektor makanan minuman pada 2026, di antaranya adalah PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.

Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo mengatakan, di tengah dinamika bisnis, agenda dekarbonisasi masih menjadi perhatian.

Pada rantai proses industri minuman ringan, sumber emisi terbesar salah satunya pada transportasi dan logistik yang masih menggunakan angkutan truk berbahan bakar fosil.

"Kalau pemerintah membangun lebih banyak jalur logistik yang tidak mengandalkan trucking, seperti kereta atau lainnya, upaya menekan emisi bisa lebih luas," ujarnya.

Sejumlah anggota asosiasi juga telah menggunakan solar panel untuk memenuhi kebutuhan energi. Namun, adopsi solar panel belum merata karena investasi dan biaya awalnya cukup besar.

Strategi berikutnya ditempuh melalui pengelolaan sampah berbasis lingkungan dan pemanfaatan material plastik daur ulang, seperti recycled PET pada kemasan minuman.

“Bisa dibilang kita adalah pelopor. Anggota kami yang sudah mulai penggunaan plastik PET recycled,” katanya.

Harga recycled plastic lebih mahal dibandingkan virgin plastic. Karenanya, perusahaan yang menggunakan material daur ulang dinilai sebagai pendekatan jangka panjang, dibandingkan sekedar mengejar untung.

“Mereka willing to invest, meski ada tambahan biaya, tapi sudah lebih siap untuk menghadapi kebutuhan ekonomi sirkular ke depan,” imbuhnya.

Meski penggunaan kemasan ramah lingkungan belum menjadi standar khusus industri, ekonomi sirkular telah menjadi arah kebijakan bisnis global. Sejumlah perusahaan di Indonesia yang terafiliasi dengan perusahaan global mulai mendapatkan mandat untuk mengadopsi prinsip tersebut.

Hal ini dapat mendukung percepatan adopsi ekonomi sirkular, meskipun implementasinya menghadapi tantangan.

“Misalnya dari sisi rantai pasok pengumpulan dan pengolahan plastik antar wilayah belum seragam. Banyak proses yang jadi perhatian,” katanya.

Semakin baik ekosistem, harapannya penggunaan material daur ulang akan semakin mudah dan terjangkau sehingga meningkatkan kandungan material daur ulang pada kemasan.

Investasi Hijau

Tiga hingga empat tahun terakhir, investasi industri dalam berbagai inisiatif keberlanjutan menunjukkan peningkatan.

Sedangkan tahun ini, sebagian pelaku industri masih menanti arah kebijakan peraturan Extended Producers Responsibility (EPR). Kebijakan ini memungkinkan produsen ikut bertanggung jawab atas pengelolaan sampah dan produk kemasan.

Aturan EPR Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) / Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) itu merevisi Peraturan Menteri LHK No. 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Regulasi baru ini direncanakan terbit akhir September.

Dalam jangka panjang, investasi hijau dapat membantu menekan biaya dan membuat bisnis lebih berkelanjutan. Namun, efektivitasnya juga bergantung pada kebijakan pemerintah dan ekosistem pendukung.

“Dalam jangka panjang, kami yakin ke arah sana (investasi hijau), sehingga menurunkan beban, dan melengkapi ekosistem,” pungkasnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...