Dekarbonisasi Industri Barang Rumah Tangga Terbentur Energi

Image title
Oleh Katadata Green
28 September 2026, 19:06
Dekarbonisasi Industri Barang Rumah Tangga Terbentur Energi
gudangada
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Jakarta - Sektor barang konsumsi (FMCG) dan kebutuhan rumah tangga menghadapi tuntutan dekarbonisasi seiring jejak karbon yang dihasilkan sepanjang rantai produksi.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2022, sektor manufaktur menyumbang  28% emisi nasional dengan subsektor bahan kimia, semen, pulp dan kertas, makanan dan minuman, besi dan baja, plastik, sabun dan deterjen, serta tekstil sebagai penyumbang emisi tertinggi.

Indonesia menghadapi tantangan kompleks dalam mencapai target pembangunan ekonomi dan target pengurangan emisi. Padahal, merujuk Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement To The United Nations Framework Convention on Climate Change, pemerintah berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca 31,9% pada 2030.

Dekarbonisasi pun menjadi bagian penting dalam strategi bisnis seiring meningkatnya  standar keberlanjutan di sepanjang rantai pasok.

Menurut data Katadata ESG Insight (KESGI) pada 2026, skor pilar lingkungan di sektor kebutuhan rumah tangga berada di atas 40.  Beberapa perusahaan dengan skoring KESGI tertinggi di sektor tersebut secara berurutan yaitu PT Unilever Indonesia Tbk (63), PT Kino Indonesia Tbk (52), dan PT Martina Berto Indonesia Tbk (49).

Moekti Handajani Soejachmoen, Direktur Eksekutif Indonesian Research Institute for Decarbonization (IRID) mengatakan, banyak perusahaan kini melihat dekarbonisasi bukan sekedar dari pelaporan ESG, melainkan strategi bisnis.

Menurutnya, dekarbonisasi dapat memberikan manfaat ekonomi apabila dikaitkan dengan akses pasar, efisiensi produksi, dan kemampuan perusahaan memenuhi standar pembeli.

“Banyak perusahaan menjadikan dekarbonisasi sebagai strategi. Kalau hanya ESG untuk memenuhi pelaporan, manfaatnya terbatas. Tetapi kalau sudah menjadi strategi bisnis, banyak hal yang bisa dilakukan,” ujarnya, Jumat (25/9).

Perubahan tersebut semakin relevan karena sejumlah pasar mulai menerapkan standar lingkungan ketat. Perusahaan yang tidak menyesuaikan proses produksi akan sulit memenuhi syarat rendah karbon untuk memasuki pasar ekspor Uni Eropa, Amerika Serikat dan Australia.

Meski demikian, penerapan teknologi rendah emisi masih menghadapi tantangan, terutama regulasi dan infrastruktur energi.

Menurutnya, teknologi untuk menggantikan sumber energi berbasis batu bara dengan energi terbarukan semakin berkembang dan lebih terjangkau. Namun, pemanfaatannya di sektor industri masih bergantung pada kebijakan dan sistem energi yang tersedia.

Tak Selalu Ekonomis

Efisiensi energi dapat memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan meskipun investasi awal teknologi rendah karbon masih mahal dibandingkan harga energi yang relatif murah.

“Efisiensi energi seharusnya menarik, tetapi harga energi murah. Sementara investasinya tidak murah,” ujar Moekti.

Penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menjadi pilihan untuk menurunkan emisi, namun beberapa perusahaan yang membutuhkan koneksi jaringan PLN menghadapi sejumlah keterbatasan.

“Industri bisa melakukan dekarbonisasi dari sisi teknologi sampai batas tertentu. Tetapi kalau energinya masih menghasilkan emisi tinggi, upaya tersebut akan tetap terbatas,” katanya.

Agung Budiono, Executive Director Yayasan Indonesia Cerah, menambahkan, efisiensi energi dan pemanfaatan PLTS atap, keekonomiannya saat ini cukup menarik. PLTS atap sektor industri umumnya memiliki periode pengembalian investasi yang lebih cepat dibandingkan umur aset yang dapat mencapai 25 tahun.

Selain itu, semakin banyak tersedia skema sewa maupun power purchase agreement (PPA) dengan pengembang sehingga perusahaan dapat mulai menghemat biaya listrik tanpa harus mengeluarkan belanja modal besar di awal.

Tantangan utamanya pada regulasi. Sistem kuota PLTS atap dan absennya mekanisme kompensasi listrik yang diekspor membuat kapasitas sistem terbatas pada kebutuhan konsumsi listrik pada siang hari.

“Dari sisi bisnis sudah masuk akal, tetapi kebijakannya belum mengikuti. Kalau pemerintah membuka akses yang lebih luas, termasuk pembelian listrik terbarukan langsung, perusahaan consumer goods bisa melakukan dekarbonisasi lebih cepat,” katanya

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...