Inflasi Melonjak, Bank Sentral Inggris Naikkan Suku Bunga Menjadi 0,5%
Bank sentral Inggris (BoE) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan mereka sebesar 25 basis poin (bps) pada Kamis (3/2). Dengan demikian, BoE telah menaikkan suku bunga acuan mereka selama dua bulan berturut-turut.
Dengan kenaikan 25 bps maka suku bunga acuan kini menjadi 0,50%. Pada Desember lalu, BoE juga menaikkan suku bunga sebesar 15 bps dari 0,1% menjadi 0,25%. Kenaikan beruntun ini belum pernah dilakukan BoE setidaknya selama hampir dua dekade terakhir.
Kenaikan suku bunga dalam dua bulan beruntun diambil BoE menyusul lonjakan inflasi di Inggris. Harga-harga barang di negara tersebut telah mencapai rekor tertingginya hampir 30 tahun terakhir.
Kenaikan kedua sebesar 25 bps ini sebetulnya sudah diantisipasi oleh pasar. Dalam pertemuan pembuat kebijakan (MPC) semalam, lima orang anggota komite memilih kenaikan menjadi 0,5%, sementara empat sisanya mengusulkan kenaikan lebih agresif 50 bps menjadi 0,75%.
Dalam laporannya, MPC mengatakan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut akan tergantung pada prospek inflasi jangka menengah.
"MPC menilai bahwa, jika ekonomi berkembang secara luas sejalan dengan proyeksi laporan Februari, beberapa pengetatan lebih lanjut dalam kebijakan moneter kemungkinan patut diambil dalam beberapa bulan mendatang," kata MPC dikutip dari CNBC Internasional, Kamis (3/2).
“Komite terus menilai bahwa ada risiko dua sisi di sekitar prospek inflasi jangka menengah, terutama dari perkembangan upah di sisi atas dan dari energi dan harga barang yang dapat diperdagangkan global pada sisi negatifnya," tambahnya.
BoE bukan hanya menaikan bunga acuannya, tetapi juga memulai pengetatan quantitative easing (QE) dengan menyetop reinvestasi untuk pembelian obligasi pemerintah.
Seperti diketahui, BoE rutin melakukan reinvestasi untuk obligasi pemerintah yang jatuh tempo. Selain itu, program penjualan obligasi korporasi juga akan diselesaikan sampai akhir tahun depan.
Usai pengumuman tersebut, mata uang pound sterling naik 0,2% terhadap dolar AS, sementara imbal hasil obligasi Inggris melonjak.
Imbal hasil emas 10 tahun mencapai titik tertinggi sejak awal 2019 di 1,345%, naik sembilan bps dalam sehari. Imbal hasil emas dua tahun naik menjadi sekitar 1,13% dan emas 30 tahun naik menjadi 0,31%.
Langkah pengetatan moneter tersebut diambil untuk merespon kenaikan inflasi yang kini telah mencapai rekor tertingginya hampir tiga dekade terakhir.
Inflasi di Inggris pada Desember mencapai 5,4% secara tahunan, yang merupakan rekor tertinggi sejak Maret 1992.
Kenaikan inflasi di akhir tahun masih dipengaruhi kenaikan harga energi, meningkatnya permintaan seiring pembukaan aktivitas ekonomi serta masalah rantai pasok.
Inflasi inti, yang tidak menghitung komponen harga bergejolak, energi alkohol dan tembakau, telah naik 4,2% secara tahunan. Ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya 3,9%.
BoE pada pertemuan semalam juga menaikkan perkiraan inflasi yang diperkirakan mencapai puncaknya pada April 7,25% dari perkiraan Desember akan naik ke 6%.
Pemulihan pasar tenaga kerja tetap kuat di Inggris, dengan adanya penambahan 184.000 pekerja pada bulan Desember. Sehingga total karyawan saat ini 409.000 lebih tinggi dari tingkat sebelum Covid-19.
Bank Sentral Eropa Tidak Naikkan Bunga
Saat BoE menaikkan bunga acuannya di tengah tekanan inflasi, bank sentral Eropa (ECB) masih tidak merubah posisinya.
Pada pertemuan kemarin, ECB mengumumkan mempertahankan suku bunga utamanya tidak berubah sekalipun kenaikan inflasi mulai terasa.
Suku bunga refinancing acuan bank sentral tetap di 0%, suku bunga fasilitas pinjaman marjinalnya berada di 0,25% dan suku bunga fasilitas simpanan dipertahankan di -0,5%.
ECB mengatakan inflasi yang saat ini memanas akan memudar sepanjang tahun ini, namun banyak ekonom bertanya-tanya apakah harga konsumen akan tetap tinggi lebih lama lagi.
Periode inflasi yang lebih tinggi yang lebih lama dapat menempatkan pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung dalam risiko.
"Inflasi kemungkinan akan tetap tinggi lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya, tetapi akan menurun sepanjang tahun ini," kata Gubernur ECB Christine Lagarde.
Inflasi di zona Euro mencapai 5,1% untuk periode Januari, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya 5%. Realisasi ini juga lebih tinggi dibandingkan perkiraan Reuters di 4,4%.
