Sanksi Barat Tak Ampuh, Rusia Cetak Rekor Ekspor Energi dan Komoditas

Happy Fajrian
12 Juli 2022, 19:05
rusia, minyak, gas, komoditas, sanksi barat
ANTARA FOTO/REUTERS/Evgenia Novozhenina/aww/cf
Evgenia Novozhenina Tank perang T-90M dan T-72B3M Rusia berkendara di Red Square saat parade militer pada Hari Kemenangan, yang memperingati 77 tahun kemenangan atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia ke-2, di pusat Moskow, Rusia, Senin (9/5/2022).

Niat negara Barat menjatuhkan berbagai sanksi terhadap Rusia adalah untuk memangkas kemampuan negara tersebut membiayai perang di Ukraina. Namun data terbaru menunjukkan upaya tersebut tak membuahkan hasil yang diharapkan.

Pasalnya berbagai sanksi negara Barat terhadap Rusia malah membuat harga energi, yakni batu bara, minyak, dan gas, dan harga berbagai komoditas melambung, dan mendorong surplus neraca berjalan negara ini ke rekor tertinggi dalam 28 tahun terakhir.

Menurut data bank sentral Rusia, surplus neraca transaksi berjalan pada semester I 2022 mencapai US$ 138,5 miliar. Pada kuartal II Rusia membukukan ekspor senilai US$ 153,1 miliar, turun dari US$ 166,4 miliar pada kuartal I. Sementara impor juga turun menjadi US$ 72,3 miliar dari US$ 88,7 miliar.

“Surplus transaksi berjalan, ukuran terluas dari perdagangan barang dan jasa, mencapai rekor tertinggi sejak 1994. Turunnya impor yang didorong oleh sanksi berkontribusi pada surplus,” kata bank sentral Rusia, seperti dikutip Bloomberg, Selasa (12/7).

Sejak invasi, Rusia telah berhenti merilis data rinci tentang impor dan ekspor tetapi nilaiya dapat diperkirakan dari angka yang dirilis oleh negara-negara mitra. Pada Mei, ada tanda-tanda impor telah stabil dengan lima negara berkontribusi terhadap sekitar setengah dari perdagangan Rusia.

“Karena ekonomi beradaptasi dan bisnis mulai menemukan rute baru untuk pengiriman,” kata bank sentral Rusia. Simak komoditas ekspor utama Rusia untuk dunia pada databoks berikut:

Data terbaru menunjukkan surplus melebar pada bulan Juni menjadi sekitar US$ 28 miliar dari perkiraan US$ 14 miliar pada Mei. Bank Rusia tidak mengeluarkan data bulanan, tetapi angkanya dapat diperkirakan dengan mengurangi angka dari laporan sebelumnya.

Pada ekspor minyak, selain ditopang oleh lonjakan harga, peningkatan tarif bea ekspor yang dikenakan pada minyak mentah yang dikirim keluar dari Rusia pada bulan Juli juga membantu Kremlin untuk mengatasi penurunan arus di minggu pertama bulan ini.

Tarif bea naik 23% antara Juni dan Juli, memberikan tambahan US$ 1,42 per barel ke Rusia untuk setiap kargo yang diekspor. Alhasil Rusia hanya mencatatkan penurunan pendapatan dari ekspor minyak sebesar 2% atau sekitar US$ 3 juta meski volume ekspornya turun hingga 15% dalam seminggu terakhir.

Rusia juga meningkatkan ekspor minyak ke beberapa negara Asia, terutama Cina dan India, untuk pasokan yang ditolak oleh Eropa. Tidak hanya minyak, secara keseluruhan Asia berkontribusi lebih dari 52% dari total ekspor Rusia.

Menurut laporan Independent Commodity Intelligence Services (ICIS), perusahaan gas milik negara Rusia, Gazprom, juga masih meraup sekitar US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,48 triliun per hari dari hasil penjualan gas ke Eropa, meski volumenya diturunkan sekitar 75%.

“Sangat mengejutkan bahwa meskipun ada pengurangan 75% dalam pasokan harian ke Eropa, penerimaan harian masih sama dengan tahun lalu dan tentu saja lebih tinggi dari masa sebelum pandemi Covid-19,” kata kepala analis gas ICIS Tom Marzec-Manser.

Bahkan, pendapatan Rusia dari ekspor gas dalam beberapa bulan terakhir mengalami peningkatan signifikan menjadi sekitar € 35 miliar atau sekitar Rp 550 triliun, sejak perang Rusia-Ukraina dimulai.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...